Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Kekurangan Guru Samarinda Diprediksi Tembus 700 Orang, Skema PJLP Harus Masuk Anggaran 2027

    Juni 3, 2026

    Bersepeda Malam Jadi Tren Hiburan Baru Warga Samarinda

    Juni 2, 2026

    Cantik Tidak Lagi Harus Putih, Standar Beauty Mulai Bergeser

    Juni 2, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Tokoh
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»Diskominfo Kaltim»Inflasi Terkendali, Inovasi Pangan Digital Jadi Tantangan Kaltim
    Diskominfo Kaltim

    Inflasi Terkendali, Inovasi Pangan Digital Jadi Tantangan Kaltim

    SittiBy SittiJuni 20, 202504 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: kegiatan Capacity Building Evaluasi Program Kerja Pengendalian Inflasi yang digelar di Ruang Rapat Derawan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Kamis 19 Juni 2025
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Upaya pengendalian inflasi di Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 2024 hingga Mei 2025 menunjukkan capaian positif. Laju inflasi tercatat sebesar 1,03 persen, lebih rendah dibanding inflasi nasional yang berada di angka 2,51 persen. Namun, capaian ini disertai catatan masih minim terobosan inovatif yang berkelanjutan.

    Penilaian tersebut disampaikan dalam kegiatan Capacity Building Evaluasi Program Kerja Pengendalian Inflasi yang digelar di Ruang Rapat Derawan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Kamis 19 Juni 2025. Kegiatan ini diikuti oleh TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) dari tingkat provinsi dan seluruh kabupaten/kota se-Kaltim.

    Staf Ahli Gubernur Kaltim Bidang III Arief Murdiyanto mengakui bahwa penurunan inflasi adalah hasil dari kerja bersama berbagai pihak. Namun, ia mengingatkan agar keberhasilan ini tidak membuat daerah puas dan berhenti berinovasi.

    “Inflasi memang terkendali, tetapi kita belum menyentuh langkah-langkah luar biasa. Kita butuh lompatan inovasi terutama berbasis digital yang harus menjadi bagian dari strategi ke depan,” ujar Arief.

    Stabilitas inflasi penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Jika inflasi terlalu rendah, bisa jadi disebabkan oleh permintaan yang juga rendah, yang menandakan melemahnya konsumsi rumah tangga.

    “Jangan sampai inflasi rendah ini jadi sinyal daya beli masyarakat sedang melemah. Ketika daya beli turun, distribusi barang terganggu, dan pada akhirnya memicu ketidakseimbangan pasokan,” katanya.

    Salah satu tantangan utama yang dihadapi Kaltim adalah tingginya ketergantungan pada pasokan bahan pangan dari luar daerah. Komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang merah, bawang putih, dan daging sapi sebagian besar masih didatangkan dari provinsi lain.

    “Ini pekerjaan rumah kita semua. Kita harus mulai dari budidaya hingga ke hilir. Jangan hanya bisa menanam, tapi juga mampu memasarkan, mengelola stok, dan menciptakan rantai pasok yang efisien,” lanjut Arief.

    Ia menyebut perlunya kerja sama antarwilayah, baik sebagai penghasil maupun penerima komoditas. Bahkan, skema tukar komoditas antar kabupaten juga layak dipertimbangkan.

    “Di Kutai Timur, ada potensi besar dari pisang kepok. Di Berau, kita punya kakao. Ini bisa jadi komoditas unggulan yang ditukar dengan bahan pokok lain. Langkah seperti ini bisa menstabilkan pasokan di daerah-daerah terpencil seperti Mahakam Ulu,” jelasnya.

    Arief juga menekankan perlunya orkestrasi dan fasilitasi dari tingkat provinsi agar pengendalian inflasi kabupaten/kota berjalan serempak. “Kalau semua kabupaten dan kota kuat, maka tingkat provinsi otomatis stabil. Tapi ini perlu kolaborasi dan pembinaan terus-menerus.”

    Sementara itu, Prof Bustanul Arifin dari Universitas Lampung, yang hadir sebagai narasumber utama, menilai pengendalian inflasi Kaltim cukup berhasil. Namun menurutnya, keberhasilan ini belum didukung oleh strategi jangka panjang yang inovatif.

    “TPID dan TPIP sudah bekerja dengan baik, tapi belum terlihat terobosan besar yang bisa diandalkan secara berkelanjutan. Masih terlalu administratif, belum transformatif,” kata Bustanul.

    Ia menjelaskan, penyumbang utama inflasi Kaltim berasal dari makanan dan minuman, jasa penyediaan makanan, serta layanan pribadi. Oleh karena itu, solusi utamanya terletak pada ketersediaan suplai pangan yang stabil.

    “Jika suplai cukup, harga terkendali. Maka produksi dan manajemen stok menjadi kunci utama. Ini bukan soal menambah volume saja, tapi bagaimana mengatur pola produksi agar tidak fluktuatif,” ujarnya.

    Bustanul mendorong TPID Kaltim untuk mengadopsi teknologi dalam proses pertanian. Pertanian presisi dan smart farming dinilai dapat menjadi pilar utama pengendalian inflasi jangka panjang.

    “Dengan pendekatan ini, petani bisa menanam sesuai kebutuhan pasar, waktu tanam yang tepat, serta pengelolaan input yang efisien. Tidak harus mahal. Bahkan sensor sederhana dan sistem informasi cuaca bisa membantu,” jelasnya.

    Ia menambahkan bahwa strategi digital juga perlu menyasar pada sistem distribusi dan pencatatan stok. Menurutnya, data real-time dari pasar akan sangat membantu pengambilan keputusan cepat dan tepat.

    “Digitalisasi tidak hanya soal aplikasi, tapi cara berpikir. Pemerintah daerah harus punya dashboard yang bisa memantau harga dan stok secara harian,” imbuhnya.

    Diskusi ini menjadi momentum refleksi bersama bagi seluruh TPID di Kalimantan Timur. Evaluasi tidak hanya soal angka inflasi, tetapi juga sejauh mana daerah mampu mempersiapkan sistem yang berkelanjutan dan inovatif.

    “Ke depan, jangan hanya puas dengan inflasi rendah. Kita harus pastikan sistem ini tahan banting, adaptif, dan membawa manfaat langsung ke masyarakat,” tutup Prof. Bustanul. (Adv/DiskominfoKaltim)

    Editor: Sukri

    arief Murdiyanto TPID TPIP
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Sitti

    Related Posts

    Rudy Mas’ud Pastikan Segiri Bisa Dipakai Borneo FC Berlaga di Kancah Asia

    Mei 18, 2026

    Benteng untuk Guru, PGRI Kaltim Diminta Prioritaskan Perlindungan Hukum dan Sertifikasi

    Mei 15, 2026

    Latsar CPNS Kutim Ditutup dengan Pesan Ketangguhan

    Mei 15, 2026

    IKAMBA Kaltim Resmi Dilantik, Seno Aji Soroti Peran Strategis Warga Manggarai Barat

    Mei 15, 2026

    Temindung Creative Hub Jadi Motor Baru Ekraf Kaltim, Rindekrafda 2026–2030 Disiapkan

    Mei 13, 2026

    Dari Tambang ke Kreatif, Gekraf Kaltim Didorong Jadi Motor Ekonomi Baru

    Mei 12, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Kekurangan Guru Samarinda Diprediksi Tembus 700 Orang, Skema PJLP Harus Masuk Anggaran 2027

    SittiJuni 3, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Persoalan kekurangan tenaga pengajar di Kota Samarinda diperkirakan semakin serius hingga akhir…

    Bersepeda Malam Jadi Tren Hiburan Baru Warga Samarinda

    Juni 2, 2026

    Cantik Tidak Lagi Harus Putih, Standar Beauty Mulai Bergeser

    Juni 2, 2026

    Kasus Ring Jantung RSUD AWS, Kemenkes dan Majelis Profesi Turun Tangan

    Juni 2, 2026

    Joging Sore di Polder, Mahasiswa Akhir: Jaga Kesahatan Sekaligus Healing Dari Skripsi

    Juni 2, 2026
    1 2 3 … 3,116 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.