Insitkaltim, Samarinda – Hipertensi masih menjadi persoalan kesehatan paling serius di Kota Samarinda. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat 53.972 kasus hipertensi dari kunjungan ke fasilitas kesehatan pemerintah.
Angka tersebut menempatkan hipertensi sebagai penyakit dengan kasus terbanyak di Kota Tepian.
Hal itu disampaikan Kepala Dinkes Kota Samarinda Ismed Kusasih.
Ia mengatakan tingginya kasus hipertensi menjadi perhatian karena penyakit ini dapat memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari penyakit jantung, stroke hingga gagal ginjal apabila tidak dikendalikan sejak dini.
“Dari data kunjungan ke fasilitas kesehatan pemerintah periode Januari hingga Juni 2026, kasus hipertensi tercatat mencapai 53.972 kasus, tertinggi di antara 10 penyakit terbanyak di Samarinda,” ujarnya di Samarinda, Jumat, 31 Juli 2026.
Berdasarkan data Dinkes Samarinda, posisi kedua penyakit terbanyak ditempati common cold atau pilek sebanyak 24.135 kasus, disusul dispepsia atau gastritis 17.834 kasus, diabetes melitus 14.794 kasus, radang tenggorokan 10.945 kasus, saraf gigi mati 6.175 kasus, radang saraf gigi 5.571 kasus, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) 5.398 kasus, nyeri otot 5.219 kasus, serta diare sebanyak 4.614 kasus.
Ismed menjelaskan hipertensi merupakan kondisi tekanan darah yang mencapai atau melebihi 140/90 mmHg secara terus-menerus. Penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, tetapi dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis apabila tidak ditangani.
Data Dinkes juga menunjukkan hipertensi menjadi penyebab terbanyak penyakit jantung di Samarinda. Selama periode Januari hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 599 kasus penyakit jantung dipicu oleh hipertensi.
Untuk menekan tingginya angka kasus tersebut, Dinkes terus menggencarkan upaya promotif dan preventif melalui edukasi kepada masyarakat.
Selain mendorong penerapan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), masyarakat juga diimbau rutin memeriksakan tekanan darah, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti usia di atas 40 tahun, obesitas, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, maupun riwayat hipertensi dalam keluarga.
“Pencegahan hipertensi dapat dilakukan dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah, mengurangi makanan tinggi garam, rutin beraktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, menjaga berat badan ideal, tidak merokok, mengelola stres, serta membatasi konsumsi alkohol,” jelasnya.
Selain upaya edukasi, Dinkes melalui Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) juga mendukung pengendalian hipertensi melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan bagi penyandang hipertensi dan diabetes melitus.
“Program itu diharapkan mampu membantu pasien mengendalikan penyakit sekaligus mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat,” pungkasnya.

