Insitekaltim, Samarinda – Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda mendorong masyarakat, khususnya tenaga kerja di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menyiapkan kompetensi baru untuk menghadapi perubahan industri dari sektor berbasis ekstraktif menuju pekerjaan yang lebih ramah lingkungan atau green jobs.
Kepala BPVP Samarinda Eka Cahyana Adi mengatakan, persiapan tersebut penting dilakukan sejak sekarang mengingat sektor-sektor yang mengandalkan eksploitasi sumber daya alam memiliki risiko terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekonomi di masa mendatang.
“Jadi kita seharusnya sudah mempersiapkan diri, khususnya dari kompetensi yang kita miliki ke arah green jobs,” ujar Eka, Rabu, 2 September 2026.
Menurutnya perubahan lingkungan dan perkembangan industri akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang tersedia. Karena itu kompetensi tenaga kerja juga harus mengikuti kebutuhan industri agar masyarakat tidak kehilangan peluang kerja ketika terjadi pergeseran sektor ekonomi.
Eka mencontohkan perkembangan teknologi yang membuat sejumlah profesi berubah. Pekerjaan juru ketik yang dahulu membutuhkan mesin ketik kini bergeser menjadi pekerjaan administrasi yang memanfaatkan teknologi digital hingga perintah suara.
Hal serupa lanjutnya, perlu diantisipasi pada sektor pertambangan. Pemerintah dan lembaga pelatihan tidak bisa menunggu sampai perubahan industri terjadi baru menyiapkan tenaga kerja.
“Tadi yang disampaikan Bapak Wakil Wali Kota menegaskan bahwa pertanyaannya apakah ke depan itu tambang batu bara masih ada? Nah, kita harus siapkan dari sekarang,” katanya.
BPVP Samarinda pun mulai mengarahkan pelatihan pada bidang yang mendukung transisi tersebut. Salah satunya pelatihan pemasangan solar panel serta rencana pengembangan kompetensi terkait kendaraan listrik dan hybrid, daur ulang, hingga pemanfaatan bahan ramah lingkungan.
Untuk memperkuat langkah tersebut, BPVP Samarinda akan membangun koordinasi pentaheliks melalui Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV).
Unsur yang dilibatkan mencakup pemerintah, akademisi, dunia usaha, dunia industri, dunia kerja, komunitas, kelompok disabilitas, Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI), serta media.
Di sisi lain BPVP Samarinda menargetkan sebanyak 12.000 orang mengikuti pelatihan hingga Desember 2026. Saat ini sekitar 4.000 peserta telah mengikuti program tersebut.
Pelatihan diberikan secara gratis karena seluruh pembiayaan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Peserta juga memperoleh uang saku Rp50 ribu per hari, makan siang, pakaian kerja, sepatu keselamatan, serta sertifikat dari Kementerian Ketenagakerjaan dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Eka berharap pemerintah daerah hingga tingkat kecamatan dan kelurahan ikut memperluas sosialisasi agar masyarakat dapat memanfaatkan pelatihan tersebut sebagai bekal menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.

