Insitekaltim, Samarinda – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda menegaskan penanganan kebakaran di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Samarinda difokuskan pada percepatan pemulihan sarana dan prasarana belajar yang terdampak.
Kepala Bidang SMP Disdikbud Samarinda Wahiduddin menyampaikan, terdapat Enam ruang kelas yang mengalami kerusakan parah akibat kebakaran.
Kondisi ini dinilai cukup mendesak mengingat kebutuhan ruang belajar yang tinggi menjelang kenaikan kelas.
“Enam ruang kelas ini sangat dibutuhkan oleh siswa, apalagi menjelang kenaikan kelas, sehingga penanganannya menjadi prioritas,” ujarnya, Kamis 2 April 2026.
Ia menjelaskan proses perbaikan tidak hanya menyasar bangunan fisik, tetapi juga seluruh fasilitas penunjang pembelajaran yang ikut terdampak. Mulai dari meja, kursi, papan tulis, hingga instalasi listrik akan diperbaiki secara menyeluruh.
“Semua akan kita benahi, termasuk instalasi listrik agar ke depan lebih aman dan tidak terjadi kejadian serupa,” jelasnya.
Berdasarkan data sementara, total ruang kelas yang terdampak dalam bangunan tersebut berjumlah delapan, terdiri dari empat ruang di lantai atas dan empat di lantai bawah. Namun dari jumlah tersebut, enam ruang mengalami kerusakan signifikan.
Selain kerusakan bangunan, kebakaran juga berdampak pada sejumlah fasilitas belajar. Tercatat ratusan meja dan kursi siswa mengalami kerusakan, disertai puluhan kipas angin, papan tulis, lemari kelas, serta unit pendingin ruangan (AC) yang turut terdampak.
“Kerusakan tidak hanya pada ruangannya saja, tapi juga sarana di dalamnya yang memang cukup banyak,” tambahnya.
Untuk mendukung percepatan pemulihan, Disdikbud memperkirakan kebutuhan anggaran perbaikan mencapai sekitar Rp2 miliar.
Sementara itu untuk menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar, pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran daring bagi siswa kelas 7 dan 8 selama kurang lebih 11 hari ke depan. Hal ini juga menyesuaikan dengan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik bagi siswa kelas 9.
“Selama masa ini, pembelajaran dilakukan secara daring agar kegiatan pendidikan tetap berjalan,” tutupnya.
Dengan langkah tersebut, diharapkan proses pemulihan sarana belajar dapat segera rampung sehingga aktivitas belajar mengajar dapat kembali normal dalam waktu dekat.

