Insitekaltim, Samarinda – Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kalimantan Timur (Kaltim) juga General Manager Hotel Grand Verona, Hendri Kurniawan, mengatakan, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Menjadi tantangan lebih besar, dibanding pemadaman listrik bergulir. Karena dampaknya, pada menurunnya kegiatan pemerintahan dan tingkat hunian hotel.
Ia mengaku, pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Kaltim masih dapat diantisipasi oleh industri perhotelan. Melalui penggunaan generator set (genset) dan berbagai sistem pendukung.
Verona, Hendri Kurniawan, mengatakan, hotel telah memiliki standar operasional dalam menghadapi pemadaman listrik. Saat pasokan listrik PLN terputus, operasional langsung dialihkan ke genset sehingga pelayanan kepada tamu tetap berjalan.
“Kalau sekarang pemadamannya sudah terjadwal, jadi kami bisa antisipasi. Tinggal pindah ke genset. Memang ada jeda beberapa detik, terutama kalau sedang ada presentasi atau event,” katanya di Samarinda, Jumat, 10 Juli 2026.
Menurut Hendri, Hotel Grand Verona menggunakan genset berkapasitas 555 KVA yang rutin menjalani perawatan. Mulai dari pemeriksaan aki, oli, hingga sistem pendingin.
Selain itu, hotel juga menyiapkan cadangan sekitar 5.000 liter solar agar operasional tetap berjalan jika pemadaman berlangsung lama.
Ia mengakui, penggunaan genset memang menambah biaya operasional karena membutuhkan bahan bakar. Namun, biaya tersebut masih dianggap sebagai konsekuensi, untuk menjaga kenyamanan tamu.
“Kalau kami paling tambahan biaya BBM. Tapi stoknya sudah disiapkan, jadi operasional tetap aman,” ujarnya.
Hendri menambahkan, hingga kini belum ada laporan dampak signifikan dari hotel-hotel anggota IHGMA akibat pemadaman listrik.
Kekhawatiran lebih banyak muncul, jika pemadaman terjadi mendadak karena berpotensi merusak peralatan elektronik.
Meski demikian, ia menilai persoalan terbesar yang dihadapi industri perhotelan saat ini, bukan pemadaman listrik. Melainkan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, yang mengurangi kegiatan rapat, pelatihan, dan agenda kedinasan.
“Yang paling terasa sebenarnya efisiensi pemerintah. Selama ini pasar kami banyak dari kegiatan pemerintah. Sekarang kami harus mencari penggantinya,” ungkapnya.
Sebagai langkah bertahan, hotel mulai membidik pasar nonpemerintah dengan memperbanyak penyelenggaraan pesta pernikahan, ulang tahun, pertemuan komunitas, hingga berbagai event lainnya.
Meski berbagai upaya dilakukan, tingkat okupansi hotel di Kalimantan Timur saat ini masih berada di kisaran 50 persen, bahkan sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu.
Karena itu, IHGMA berharap pemerintah dapat memperbanyak penyelenggaraan kegiatan berskala regional maupun nasional di Kalimantan Timur guna menggerakkan sektor perhotelan dan ekonomi daerah.
“Hotel bukan berdiri sendiri. Di belakang kami ada petani, peternak, pemasok bahan makanan hingga UMKM. Kalau hotel sepi, semuanya ikut terdampak,” tutur Hendri.
Di sisi lain, ia berharap persoalan pasokan listrik di Kalimantan Timur segera teratasi agar tidak mengganggu kenyamanan tamu, terutama saat berlangsung rapat, seminar, maupun kegiatan lainnya.

