Insitekaltim, Samarinda – Beberapa hari setelah perayaan Iduladha 1447 Hijriah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda masih menemukan pembuangan limbah hewan kurban di sejumlah titik di Kota Samarinda.
Meski jumlahnya disebut menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, DLH menilai praktik pembuangan jeroan dan limbah kurban ke sungai maupun tempat pembuangan liar masih menjadi persoalan serius yang berpotensi mencemari lingkungan.
Kepala DLH Samarinda Suwarso mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda sebenarnya telah mengeluarkan surat edaran terkait tata cara penanganan limbah hewan kurban sebelum Hari Raya Iduladha dilaksanakan.
“Wali kota sudah mengeluarkan edaran berkaitan dengan pelaksanaan kurban tahun 2026 termasuk bagaimana penanganan limbah pasca pemotongan,” ujarnya, Senin, 1 Juni 2026.
Dalam edaran tersebut, masyarakat diminta menanam limbah jeroan hewan kurban ke dalam tanah dengan kedalaman minimal 50 sentimeter agar tidak mencemari lingkungan sekitar maupun aliran drainase dan sungai.
“Jeroan itu harus ditanam dalam tanah dengan ketebalan minimal 50 sentimeter, dengan harapan limbahnya tidak mengalir ke permukaan air atau ke area drainase,” katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, DLH mencatat tingkat pelanggaran mengalami penurunan cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Namun, praktik pembuangan limbah kurban ke sungai masih ditemukan.
“Tahun sebelumnya masih banyak yang membuang jeroan ke sungai. Tahun ini memang masih ada tiga karung jeroan yang dibuang ke Sungai Karang Mumus,” ungkap Suwarso.
DLH Samarinda langsung melakukan evakuasi cepat terhadap limbah tersebut menggunakan perahu operasional di Sungai Karang Mumus sebelum akhirnya dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sambutan untuk ditimbun.
“Sebagai bentuk reaksi cepat, tim kami langsung mengangkut tiga karung itu menggunakan perahu dan langsung ditanam di TPA Sambutan,” ujarnya.
Selain di sungai, tim DLH juga menemukan limbah kurban dibuang di tempat pembuangan sementara (TPS) kawasan Ring Road Lempake.
“Ada juga yang dibuang di TPS di kawasan Ring Road. Tim kami langsung melakukan penanganan dan dibawa ke TPA Sambutan untuk ditimbun,” katanya.
Menurut Suwarso, kesadaran masyarakat mulai meningkat setelah pemerintah rutin mengeluarkan imbauan terkait pengelolaan limbah kurban setiap tahun. Namun ia mengingatkan bahwa limbah jeroan hewan sangat rentan membusuk dan dapat mencemari lingkungan bila dibuang sembarangan.
“Limbah jeroan ini cepat membusuk dan isinya kotoran. Kalau dibuang sembarangan tentu bisa merusak dan mencemari lingkungan,” tegasnya.
DLH berharap pada perayaan Iduladha tahun berikutnya masyarakat semakin disiplin dalam menangani limbah hewan kurban agar tidak lagi ditemukan pembuangan ke sungai maupun ruang terbuka.
“Semoga tahun depan imbauan dari wali kota benar-benar dijalankan dan tidak ada lagi yang membuang limbah ke permukaan air terbuka,” ujarnya.
Di sisi lain, DLH Samarinda menyebut volume sampah selama Iduladha tahun ini relatif terkendali dan tidak mengalami lonjakan besar seperti saat Idulfitri.
“Kalau volume sampah Alhamdulillah normal. Kita sudah antisipasi dari pengalaman Idulfitri kemarin. Hanya ada sedikit peningkatan di daerah tertentu seperti Pelita dan Griya,” kata Suwarso.
Ia menilai kondisi kebersihan kota selama Iduladha tahun ini masih cukup terkendali karena penanganan sampah dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.
“Teman-teman juga bisa lihat, sampah tidak sampai melebar ke mana-mana. Saya kira itu cukup terkendali,” tutupnya.

