Insitekaltim, Samarinda – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda meminta penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan gawai dalam pembelajaran di sekolah dibatasi. Penggunaan teknologi dinilai perlu disesuaikan dengan kebutuhan mata pelajaran agar tidak mengurangi ruang peserta didik untuk berpikir secara mandiri.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disdikbud Kota Samarinda Ibnu Araby mengatakan, penggunaan gawai dalam pembelajaran tidak dapat diterapkan secara sama pada seluruh mata pelajaran. Menurutnya, sekolah perlu menentukan waktu dan kebutuhan penggunaan perangkat digital.
“Ini perlu ada pembatasan-pembatasan. Penggunaan gawai di sekolah itu dimulai pada pukul berapa, untuk mata pelajaran apa,” kata Ibnu, Rabu 23 September 2026.
Ia menilai teknologi tetap dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, terutama pada mata pelajaran yang membutuhkan akses terhadap informasi. Namun, penggunaan gawai perlu dibatasi pada pembelajaran yang membutuhkan latihan dan proses berpikir secara langsung.
Ibnu mencontohkan pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar. Menurutnya, siswa tetap perlu diberikan kesempatan menyelesaikan persoalan menggunakan kemampuan sendiri sebelum memanfaatkan teknologi untuk mencari jawaban.
“Kalau pembelajaran matematika mereka menggunakan gawai, anggap saja penjumlahan 9 tambah 9, kalau kita kan 18. Anak buka gawai, 9 tambah 9 seperti itu,” ujarnya.
Ia khawatir ketergantungan terhadap gawai dan teknologi dalam menyelesaikan persoalan sederhana dapat mengurangi kesempatan siswa melatih kreativitas dan kemampuan berpikir.
“Kalau mereka menggunakan gawai, kreativitas berpikir mereka itu kan kurang. Jadi kita harapkan matematika ada pengurangan, ada pembatasan tertentu. Lebih banyak mereka berpikir menggunakan otak,” katanya.
Menurut Ibnu, arahan mengenai pembatasan penggunaan gawai telah disampaikan secara berkala dalam pertemuan bersama kepala sekolah maupun kelompok kerja kepala sekolah. Arahan tersebut juga telah dituangkan melalui edaran kepada satuan pendidikan.
Persoalan penggunaan AI dalam pendidikan turut menjadi perhatian seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi digital di lingkungan sekolah. Pemerintah Kota Samarinda sebelumnya mendorong transformasi digital pendidikan melalui peningkatan kompetensi guru.
Pada Juli 2026, sebanyak 1.200 guru mengikuti program upskilling dan transformasi digital sekolah yang salah satu tujuannya meningkatkan kemampuan pendidik dalam memanfaatkan teknologi digital.
Di sisi lain, Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri sebelumnya menyampaikan bahwa perkembangan AI perlu dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam pembelajaran, bukan semata-mata dipandang sebagai ancaman.
Ibnu menegaskan, teknologi tetap memiliki peran dalam pendidikan. Namun, penggunaannya perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran agar peserta didik tetap memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas.

