Insitekaltim, Samarinda – Menjelang pengukuhan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Samarinda periode 2026–2031 pada 11 Agustus mendatang, kepengurusan baru telah menyiapkan sejumlah program prioritas.
Salah satunya adalah menggagas Sekolah Kerukunan sebagai upaya memperkuat toleransi dan moderasi beragama melalui dunia pendidikan.
Ketua FKUB Kota Samarinda Syaparuddin mengatakan, pengukuhan yang rencananya dilakukan Wali Kota Samarinda Andi Harun di Arutala Bapperida Kota Samarinda akan menjadi titik awal pelaksanaan kerja nyata FKUB dalam membangun ekosistem kerukunan lintas agama.
“Kami ingin mendengarkan pesan-pesan penting Pak Wali kepada FKUB dalam rangka kerja nyata menciptakan ekosistem kerukunan lintas agama di Kota Samarinda,” ujarnya di Samarinda, Rabu, 5 Agustus 2026.
Syaparuddin menyampaikan, usai pengukuhan nanti, FKUB akan langsung menggelar rapat kerja untuk menyusun langkah-langkah implementasi program, termasuk merumuskan konsep Sekolah Kerukunan.
Program tersebut akan dikembangkan melalui kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kota Samarinda, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur untuk jenjang SMA dan SMK, perguruan tinggi, serta organisasi keagamaan lintas agama.
“Kami ingin Sekolah Kerukunan ini menjadi program bersama. Karena itu kami akan bermitra dengan Dinas Pendidikan Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, universitas di Samarinda dan seluruh organisasi keagamaan untuk memperkuat upaya membangun kerukunan antarumat beragama,” terangnya.
Menurut Syaparuddin, pendidikan menjadi investasi jangka panjang dalam menjaga kerukunan masyarakat. Karena itu, nilai-nilai toleransi perlu ditanamkan sejak dini agar pelajar memiliki pemahaman tentang pentingnya menghargai perbedaan agama.
“Kalau sejak SD anak-anak sudah diberikan edukasi tentang kerukunan lintas agama, mereka akan memiliki pengetahuan untuk menghargai perbedaan. Dari pengetahuan itu akan lahir cara pandang yang lebih toleran, kemudian tumbuh sikap moderat dan akhirnya tercipta kerukunan yang baik di tengah masyarakat,” jelasnya.
Pendekatan serupa juga akan dilakukan di tingkat perguruan tinggi dengan melibatkan mahasiswa dalam diskusi dan ruang kolaborasi mengenai toleransi dan keberagaman.
Terkait implementasinya di sekolah, FKUB masih akan membahas bersama para pemangku kepentingan apakah materi Sekolah Kerukunan akan dimasukkan ke dalam kurikulum atau dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler.
“Nanti akan kami bicarakan apakah masuk dalam kurikulum atau menjadi kegiatan ekstrakurikuler. Yang jelas kami ingin masuk ke sekolah-sekolah dan membangun sinergi dengan mahasiswa serta organisasi kemasyarakatan,” tuturnya.
Selain menggagas Sekolah Kerukunan, FKUB juga akan memperkuat kelembagaan dengan membentuk FKUB di tingkat kecamatan. Organisasi itu juga berencana membentuk forum pemuda lintas agama dan forum perempuan lintas agama sebagai bagian dari upaya memperluas partisipasi masyarakat dalam menjaga kerukunan.
Syaparuddin berharap seluruh program tersebut dapat membangun ekosistem kerukunan yang semakin kuat di Kota Samarinda. Namun, ia menegaskan keberhasilannya tidak dapat dicapai oleh FKUB sendiri, melainkan membutuhkan dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, serta seluruh elemen masyarakat.
“Kalau kerja nyata ini bisa kami lakukan bersama, saya yakin akan terbangun ekosistem kerukunan yang sehat di Kota Samarinda. FKUB tidak bisa bekerja sendiri, tetapi harus didukung semua pihak,” pungkasnya.

