Insitekaltim, Samarinda – Kecintaan terhadap buku ternyata bisa tumbuh dari hal sederhana. Bagi saudara kembar Zahra dan Zaskia, kebiasaan membaca sejak sekolah dasar bermula dari sebuah perpustakaan kecil milik paman mereka di rumah. Bertahun-tahun kemudian, kebiasaan itu membawa keduanya datang ke Pasar Buku Murah dan Festival Literasi Kaltim, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Keduanya bahkan rela datang dari Samarinda Seberang pada akhir pekan untuk berburu buku. Informasi mengenai kegiatan tersebut pertama kali diketahui Zahra dari unggahan Instagram yang dikirim oleh temannya sekitar sepekan sebelum acara.
“Jadinya kayak nungguin banget hari ini,” kata Zahra.
Mahasiswi UINSI Samarinda itu mengaku bersama kembarannya memang memiliki kegemaran membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Zaskia mengatakan, ketertarikan tersebut mulai tumbuh ketika mereka masih duduk di bangku SD kelas tiga.
Menurut Zaskia, salah satu pemicunya adalah keberadaan perpustakaan kecil di kamar adik ayahnya. Ia dan Zahra kerap menghabiskan waktu untuk membaca koleksi buku yang tersedia di sana.
Kebiasaan tersebut kemudian berlanjut ketika keduanya menemukan bazar buku dengan harga murah. Dari sana, mereka mulai mengoleksi buku menggunakan uang yang mereka sisihkan sendiri.
“Orang tua enggak bakal ngasih uang yang khusus untuk beli buku, cuma kalian aja yang sendiri ngatur. Tapi alhamdulillah selalu kebeli kalau pengen beli,” ujarnya.
Meski sama-sama gemar membaca, selera keduanya berbeda. Zaskia lebih menyukai novel bergenre romance serta crime, thriller, dan mystery. Sementara Zahra yang mengambil jurusan Hukum lebih banyak membaca buku bertema sosial, termasuk karya fiksi maupun nonfiksi yang berkaitan dengan persoalan hukum dan masyarakat.
Dalam kunjungannya kali ini, Zaskia membeli satu buku seharga Rp64.500 setelah mendapat potongan harga sekitar 50 persen. Sementara Zahra membawa pulang dua buku, yakni Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire dan Down and Out in Paris and London karya George Orwell, dengan total Rp137 ribu.
Bagi Zaskia, harga buku yang ditawarkan cukup murah. Namun, ia menilai buku-buku yang menjadi best seller belum banyak mendapatkan potongan harga sehingga pilihannya menjadi lebih terbatas.
“Saya kayak blind buy aja sebenarnya. Dan kebetulan dari penerbit yang bagus, jadi saya penasaran,” katanya.
Zahra juga memberikan sejumlah catatan untuk penyelenggara. Menurutnya, buku yang dijual sebaiknya dikelompokkan berdasarkan kategori agar pengunjung lebih mudah mencari buku sesuai minat. Ia juga mengaku harus menghabiskan waktu lebih dari 30 menit di kasir akibat kendala sistem.
Meski demikian, keduanya menilai kegiatan tersebut positif, terlebih antusiasme pengunjung pada hari pertama cukup tinggi. Zahra berharap penyelenggara dapat melakukan perbaikan selama pelaksanaan kegiatan berlangsung.
Bagi mereka, festival buku bukan sekadar tempat membeli bacaan dengan harga murah. Dari kebiasaan sederhana membaca koleksi keluarga sejak kecil, buku telah menjadi bagian dari kehidupan mereka hingga kini.

