Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Spanduk ‘Tanah Dijual’ Muncul di Atas Bukit Terowongan Samarinda, Bagaimana Respon DPRD Kota?

    Juni 15, 2026

    Dugaan Pelanggaran Ketenagakerjaan, Karyawan UMKM Mengadu ke DPRD

    Juni 15, 2026

    Repatriasi Keuntungan Investor Asing Ikut Melemahkan Nilai Tukar

    Juni 15, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Pendidikan»Akademisi Undip Soroti Polarisasi Informasi dan Krisis Kepercayaan Publik di Era Digital
    Pendidikan

    Akademisi Undip Soroti Polarisasi Informasi dan Krisis Kepercayaan Publik di Era Digital

    Andika SaputraBy Andika SaputraJanuari 8, 2026Updated:Februari 4, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro, Lintang Ratri, yang juga merupakan Dewan Pakar Gradasi serta anggota Japelidi dan Mafindo
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda — Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Lintang Ratri menilai persoalan komunikasi publik paling krusial di era media digital saat ini bukan lagi sekadar maraknya hoaks, melainkan polarisasi informasi yang dipicu oleh kerja algoritma media sosial.

    Lintang Ratri yang juga menjabat sebagai Dewan Pakar Generasi Digital Indonesia (Gradasi) serta tergabung sebagai anggota Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menjelaskan, algoritma platform digital mendorong masyarakat hidup dalam ruang gema masing-masing.

    Publik cenderung hanya terpapar informasi yang sejalan dengan keyakinan pribadi, sehingga fakta yang benar sekalipun kerap ditolak.

    “Akibatnya kepercayaan terhadap media, negara, bahkan akademisi ikut terkikis. Inilah krisis kepercayaan publik di era digital,” ujar Lintang, Kamis, 8 Januari 2026.

    Ia menyoroti situasi Indonesia pasca Pemilu 2024, di mana polarisasi di media sosial justru terus berlanjut meski proses elektoral telah selesai.

    Menurutnya, platform seperti TikTok, X, dan Instagram Reels cenderung memprioritaskan konten bernada emosional karena memiliki tingkat keterlibatan tinggi.

    Hal ini membuat klarifikasi resmi dari lembaga negara, media arus utama, maupun akademisi sering kali tidak dipercaya, sementara influencer atau akun afiliasi politik justru dijadikan rujukan utama publik.

    Dalam kondisi tersebut, kepercayaan terhadap media arus utama ikut menurun, ditandai dengan narasi publik yang kerap menyebut media tidak netral tanpa dasar yang jelas.

    Selain itu, fenomena ini juga diperparah oleh maraknya serangan personal terhadap pakar dan akademisi di ruang digital, yang menunjukkan bahwa otoritas keilmuan semakin kalah oleh popularitas algoritmik.

    Lintang menegaskan bahwa tantangan komunikasi publik saat ini bukan hanya melawan informasi salah, tetapi memulihkan ruang diskusi publik yang sehat.

    Karena itu literasi digital harus ditingkatkan ke level yang lebih kritis, termasuk pemahaman tentang cara kerja algoritma, kesadaran akan bias pribadi, serta tanggung jawab dalam memproduksi dan menyebarkan informasi.

    Terkait peran akademisi komunikasi, Lintang menilai literasi media tidak bisa berhenti pada kampanye anti-hoaks semata. Akademisi perlu terlibat dalam perancangan kebijakan, pengembangan kurikulum, serta strategi literasi digital yang berkelanjutan dan terintegrasi antara pemerintah, media, pendidikan, dan komunitas.

    Di sisi lain, Lintang juga menyoroti tantangan jurnalisme di era digital yang semakin kompleks. Selain tuntutan kecepatan dan akurasi, jurnalis menghadapi tekanan finansial, ancaman kebebasan pers, serta berbagai bentuk intimidasi di lapangan. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga komitmen terhadap verifikasi, etika, dan independensi jurnalistik.

    Bagi mahasiswa komunikasi yang akan memasuki dunia kerja, Lintang menegaskan pentingnya penguasaan literasi digital, kemampuan produksi konten yang etis, storytelling, analisis audiens, serta perancangan komunikasi strategis.

    Ia juga menilai kemampuan kolaborasi, manajemen proyek, dan etika profesional menjadi bekal utama di dunia kerja saat ini.

    Lintang juga berpesan kepada masyarakat dan generasi muda agar lebih bijak dalam mengonsumsi dan memproduksi informasi di media sosial. Menurutnya, di era digital setiap individu memiliki peran ganda sebagai konsumen sekaligus produsen informasi.

    “Kita perlu memahami konteks, memverifikasi sumber, dan mempertimbangkan dampak sosial dari setiap informasi yang dibagikan agar ruang publik digital tetap sehat dan demokratis,” pungkasnya.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Andika Saputra

    Related Posts

    Kebutuhan Sekolah di Kaltim Belum Terpenuhi, Revitalisasi dari Pusat Belum Menjawab Persoalan

    Juni 15, 2026

    IKIP PGRI Kaltim Siapkan UKM Baru, Bidik Prestasi Mahasiswa di Tingkat Nasional

    Juni 14, 2026

    Open Turnamen Karate Piala Rektor IKIP PGRI Kaltim Jadi Ajang Cari Bibit Atlet Masa Depan

    Juni 13, 2026

    Gelombang Pensiun dan Efisiensi Anggaran, Sekolah di PPU Hadapi Tantangan Berat

    Juni 12, 2026

    Dua Bulan Pascakebakaran, Perbaikan Delapan Ruang Kelas SMPN 2 Samarinda Segera Dilelang

    Juni 12, 2026

    Perlu Evaluasi, Fuad Minta Penerapan TKA Tak Hambat Siswa Lanjut Pendidikan

    Juni 11, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Spanduk ‘Tanah Dijual’ Muncul di Atas Bukit Terowongan Samarinda, Bagaimana Respon DPRD Kota?

    Nur AjijahJuni 15, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Terowongan Samarinda atau Terowongan Selili merupakan proyek infrastruktur strategis sepanjang 690 meter yang…

    Dugaan Pelanggaran Ketenagakerjaan, Karyawan UMKM Mengadu ke DPRD

    Juni 15, 2026

    Repatriasi Keuntungan Investor Asing Ikut Melemahkan Nilai Tukar

    Juni 15, 2026

    Hipertensi Jadi Penyakit Terbanyak di Kaltim, Diabetes Menempati Urutan Kedua

    Juni 15, 2026

    Kebutuhan Sekolah di Kaltim Belum Terpenuhi, Revitalisasi dari Pusat Belum Menjawab Persoalan

    Juni 15, 2026
    1 2 3 … 3,147 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.