Insitekaltim, Samarinda – Kemampuan memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi dan beradaptasi dengan perubahan teknologi menjadi keterampilan yang masih perlu diperkuat mahasiswa Teknologi Informasi (TI) untuk menghadapi dunia kerja.
Dosen Program Studi Teknik Informatika Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), Aam Shodiqul Munir menilai kurikulum TI saat ini masih relevan dengan kebutuhan industri karena penyusunannya turut melibatkan pihak industri. Menurutnya dunia kerja tidak hanya membutuhkan kemampuan fundamental seperti pemrograman, tetapi juga kemampuan berpikir analitis dan kolaborasi.
“Yang sering aku temui adalah kemampuan problem solving (pemecahan masalah) pada masalah-masalah yang benar-benar terjadi di sekitar kita. Bagaimana cara melihat menganalisa suatu permasalahan kemudian membuat solusi yang diimplementasikan secara nyata,” kata Aam saat dihubungi wartawan Insitekaltim, Jumat, 28 Agustus 2026.
Di tengah perkembangan teknologi, Aam menilai penggunaan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) atau AI tidak dapat dihindari. AI dinilai menjadi ancaman jika menggantikan proses berpikir mahasiswa. Sebaliknya teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk brainstorming (curah gagasan) dalam mencari solusi. Karena itu metode pembelajaran perlu menyesuaikan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan kemampuan dasar keilmuan.
Aam juga menilai teori dasar tidak perlu dipertentangkan dengan kebutuhan industri. Menurutnya teori merupakan dasar keilmuan sedangkan framework (kerangka kerja) menjadi media untuk menerapkan dasar tersebut dalam teknologi.
“Fundamental teori itu core theory-nya (teori inti) sedangkan framework-framework (kerangka kerja) itu media untuk mengimplementasikan fundamental teori itu,” ujarnya.
Selain kemampuan teknis Aam menekankan pentingnya tanggung jawab informasi keamanan informasi dan privasi data. Mahasiswa yang nantinya membangun sistem informasi harus memahami batasan dalam mengelola maupun membuka data. Menurutnya pemahaman etika teknologi tidak cukup diberikan sebagai satu materi, tetapi perlu dibiasakan melalui berbagai mata kuliah.
Untuk menghadapi dunia kerja ke depan, Aam menyebut tiga kemampuan yang perlu dimiliki lulusan TI. Ketiganya yakni kemampuan teknis kemampuan menyelesaikan masalah atau problem solving (pemecahan masalah) serta kemampuan beradaptasi. Kemampuan beradaptasi penting karena perkembangan teknologi di bidang TI berlangsung sangat cepat sehingga lulusan harus terus belajar mengikuti perubahan.
Terkait fenomena lulusan Teknik Informatika yang bekerja di luar bidang TI Aam menilai kondisi tersebut tidak bisa disebabkan oleh satu atau dua faktor. Persaingan kerja yang semakin ketat dapat memengaruhi pilihan lulusan dalam menentukan pekerjaan. Selain itu, faktor lingkungan, keluarga hingga tempat tinggal juga dapat berpengaruh.
Menurut Aam perguruan tinggi tidak dapat menentukan setiap lulusan harus bekerja sesuai bidangnya. Hal yang bisa dilakukan kampus adalah meningkatkan kemampuan mahasiswa agar lebih siap dan memiliki daya serap yang baik di dunia kerja.
“Intinya banyak faktornya. Jadi tidak bisa kita bilang faktornya satu atau dua tugas kita di kampus yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bekerja,” pungkasnya.

