Insitekaltim, Samarinda – Suara ngorok mungkin sudah dianggap biasa di banyak rumah. Ada yang menganggapnya tanda seseorang sedang tidur pulas, ada pula yang hanya mengeluh karena suara tersebut mengganggu pasangan atau anggota keluarga.
Padahal, kalau ngorok muncul hampir setiap kali tidur, kebiasaan itu sebaiknya tidak terus dianggap sepele.
Praktisi kedokteran tidur dr. Andreas Prasadja mengatakan dengkuran yang terjadi terus-menerus dapat menjadi tanda adanya gangguan pernapasan ketika seseorang sedang tidur.
“Kalau sesekali mendengkur, memang benar lagi capek doang, enggak apa-apa. Nah, kalau setiap tidur mendengkur, ini yang mesti kita waspadai,” kata Andreas dalam acara Health Talk Minggu, 27 September 2026.
Artinya, persoalannya bukan sekadar seberapa keras suara ngorok terdengar, tetapi seberapa sering kebiasaan tersebut terjadi dan apa yang dirasakan tubuh setelah bangun.
Seseorang yang mendengkur hampir setiap malam bisa saja tetap merasa lelah pada pagi hari meski sudah menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur. Keluhan lain yang dapat menyertai antara lain sulit berkonsentrasi dan merasa tubuh tidak benar-benar pulih setelah tidur.
Kondisi seperti ini kerap luput diperhatikan karena orang terbiasa menganggap rasa lelah sebagai akibat aktivitas yang padat.
Andreas mengatakan, selama sekitar dua dekade menangani pasien, ia masih menemukan orang yang baru datang mencari pertolongan setelah gangguan tidur berlangsung bertahun-tahun.
Gangguan pernapasan saat tidur bukan persoalan yang hanya terjadi ketika seseorang sedang terlelap. Dampaknya dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan secara lebih luas.
Andreas juga menyoroti kaitan gangguan pernapasan saat tidur dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Karena itu, kebiasaan mendengkur yang berlangsung terus-menerus perlu dilihat bersama gejala lain yang menyertainya.
Bukan berarti setiap orang yang ngorok pasti mengalami penyakit tertentu. Mendengkur sesekali, terutama ketika tubuh sangat lelah, tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan kesehatan.
Yang menjadi perhatian adalah ketika suara dengkuran muncul hampir setiap kali tidur dan dibarengi tanda lain seperti tubuh tetap lelah setelah bangun atau konsentrasi terganggu pada siang hari.
Kualitas tidur juga tidak hanya ditentukan oleh lamanya seseorang tidur. Posisi tubuh dan kondisi tempat tidur turut menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Dalam diskusi kesehatan tidur tersebut, para dokter membahas sejumlah faktor, termasuk keselarasan tulang belakang, distribusi tekanan tubuh, siklus tidur, hingga seberapa sering seseorang terbangun pada malam hari.
Posisi tidur menyamping, misalnya, membuat tekanan tubuh lebih banyak bertumpu pada bahu dan pinggul.
Osteopath Dr. George Michael menjelaskan, kasur yang terlalu keras maupun terlalu empuk sama-sama memiliki konsekuensi. Kasur yang keras dapat membantu menopang keselarasan tulang belakang, tetapi bisa meningkatkan tekanan pada titik tertentu. Sementara kasur yang terlalu empuk dapat mengurangi tekanan, namun belum tentu memberikan dukungan tubuh yang optimal.
Namun, mengganti kasur bukan berarti otomatis menyelesaikan persoalan mendengkur.
Jika ngorok sudah menjadi kebiasaan hampir setiap malam, terlebih disertai rasa lelah setelah bangun atau sulit berkonsentrasi pada siang hari, kondisi tersebut layak diperiksakan.

