Insitekaltim, Samarinda – Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, tantangan perjuangan bagi generasi muda dinilai telah berubah. Jika dahulu pemuda berada di garis depan dalam melawan penjajahan, kini perjuangan itu menghadapi bentuk yang berbeda, mulai dari ketimpangan ekonomi, persoalan lingkungan, krisis kepercayaan hingga berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.
Momentum Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia pun dinilai perlu menjadi ruang refleksi bagi gerakan pemuda, termasuk di Kota Bontang.
Ketua Formatur SAPMA Pemuda Pancasila Kota Bontang, Muhammad Shendy Abiyyu Badi menilai gerakan kepemudaan saat ini menghadapi persoalan serius berupa stagnasi hingga degradasi peran sosial organisasi.
Menurutnya, organisasi kepemudaan yang semestinya menjadi ruang lahirnya gagasan dan penyambung aspirasi masyarakat justru berpotensi kehilangan fungsi tersebut ketika terlalu sibuk dengan persoalan internal maupun kepentingan kelompok.
“Gerakan pemuda tidak boleh kehilangan keberanian untuk menggaungkan kritik. Dan lebih dari itu, gerakan pemuda juga tidak boleh kehilangan kemampuan untuk menawarkan solusi,” ujarnya dalam Opini 17 Agustus.
Bagi Shendy, kondisi tersebut bukan semata-mata persoalan untuk mencari siapa yang salah. Ia melihatnya sebagai alarm agar organisasi kepemudaan melakukan introspeksi sekaligus membangun kembali ketahanan gerakan.
Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan organisasi yang aktif ketika ada momentum tertentu. Organisasi kepemudaan harus mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan, turun berdiskusi, membangun gagasan, serta mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan di sekitarnya.
“Karena bagi saya, kemerdekaan bukan alasan bagi kita untuk berhenti bergerak. Kemerdekaan justru memberikan kita tanggung jawab untuk terus memperjuangkannya,” tegasnya.
Ia memandang bentuk perjuangan pemuda hari ini tidak lagi sebatas melawan penjajahan sebagaimana generasi terdahulu. Perjuangan itu dapat diwujudkan dengan melawan kebungkaman, apatisme, serta berbagai kondisi yang membuat gerakan kepemudaan kehilangan fungsi sosialnya.
Untuk menghidupkan kembali gerakan tersebut, Shendy mengatakan organisasi harus kembali ditempatkan sebagai alat perjuangan. Namun, ia menegaskan gerakan pemuda tidak akan menjadi kuat apabila setiap organisasi berjalan sendiri-sendiri.
Kolaborasi lintas organisasi, latar belakang dan gagasan dinilai menjadi kunci untuk membangun gerakan pemuda yang lebih berdampak.
“Tidak mungkin kita membangun Bontang hanya dengan satu organisasi, tidak mungkin membangun pemuda hanya dengan satu kelompok dan tidak mungkin menyelesaikan persoalan bangsa hanya dengan satu gagasan,” tuturnya.
Shendy melihat Bontang memiliki banyak anak muda dengan semangat, gagasan dan keberanian untuk bergerak. Tantangannya kini adalah menyediakan ruang bersama agar berbagai potensi tersebut dapat bertemu dan menghasilkan gerakan yang lebih besar.
Karena itu, momentum kemerdekaan ke-81 ia jadikan ajakan bagi organisasi kepemudaan di Bontang untuk merapatkan barisan, meninggalkan ego kelompok, membuka ruang dialog dan memperkuat kolaborasi.
Perbedaan cara pandang maupun ruang gerak, semestinya tidak menjadi alasan untuk saling berseberangan. Justru perbedaan dapat menjadi kekayaan, sementara kolaborasi menjadi kekuatan.
“Sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang memiliki kekuasaan, sejarah juga ditulis oleh mereka yang berani bergerak ketika yang lain memilih bungkam,” ucapnya.
Dari Bontang, ia berharap semangat tersebut dapat kembali dihidupkan. Organisasi kepemudaan tidak sekadar menjadi tempat berhimpun, tetapi menjadi ruang bagi anak muda untuk mengabdi, berpikir, bergerak dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Pancasila Abadi! Merdeka!” pungkasnya.

