Insitekaltim, Samarinda – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI memperkuat kompetensi pelatih dan penggerak olahraga disabilitas di tengah masih rendahnya partisipasi penyandang disabilitas dalam kegiatan olahraga. Upaya tersebut dilakukan melalui Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas yang digelar di Kota Tangerang, Banten, pada 7-8 Agustus 2026.
Plh. Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora RI Budi Ariyanto Muslim mengatakan, pengembangan pelatih menjadi bagian penting untuk memperluas partisipasi olahraga di kalangan penyandang disabilitas.
“Program Pemberdayaan Pelatih Olahraga Disabilitas adalah program pengembangan pelatih olahraga penyandang disabilitas yang berfokus pada peningkatan kompetensi melatih dan perluasan partisipasi olahraga komunitas disabilitas di Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, ToT tersebut merupakan tindak lanjut program prioritas dan berkelanjutan dalam pembinaan olahraga disabilitas. Kemenpora berharap para peserta tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh, tetapi juga menjadi penggerak di daerah masing-masing.
“Kami berharap kegiatan ini melahirkan penggerak-penggerak yang berkompeten dan menjadi awal pembinaan yang berkelanjutan serta mampu menjadi multiplier di daerah masing-masing dan untuk masa depan olahraga disabilitas Indonesia yang semakin gemilang dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional,” harapnya.
Pelatih Nasional NPCI (National Paralympic Committee Indonesia) M. Bram Riyadi menekankan pentingnya kemampuan pelatih dalam memahami kebutuhan setiap atlet. Pendekatan latihan tidak bisa disamaratakan karena setiap atlet memiliki klasifikasi dan hambatan yang berbeda.
“Setiap atlet disabilitas memerlukan pendekatan yang berbeda-beda karena memang atlet memiliki masing-masing klasifikasi. Setiap klasifikasi memiliki unsur-unsur berbeda dalam peningkatan kebutuhan latihannya,” jelasnya.
Bram menyebut pelatih perlu memahami hambatan yang dimiliki masing-masing atlet agar dapat menentukan metode pendampingan dan latihan yang sesuai.
“Pelatih sangat perlu memahami unsur-unsur hambatan yang ada dalam masing-masing atlet disabilitas. Di setiap masing-masing hambatan memiliki cara pendampingan dan proses cara melatihnya yang berbeda-beda,” tegasnya.
Kebutuhan peningkatan kapasitas pelatih tersebut menjadi penting karena jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,9 juta orang atau sekitar 8,5-9 persen dari populasi nasional berdasarkan data BPS 2024.
Namun, Kemenpora mencatat baru sekitar 11,6 persen dari total penyandang disabilitas tersebut yang aktif berolahraga. Rendahnya akses, layanan, fasilitas, serta dukungan tenaga pelatih menjadi sejumlah faktor yang membuat partisipasi olahraga kelompok disabilitas masih terbatas. Sedikitnya terdapat 92 pelatih olahraga disabilitas dengan latar belakang pelatih NPCI.
Salah satu peserta ToT, Citra yang merupakan guru sekolah khusus mengaku pelatihan tersebut memberinya pemahaman untuk mengidentifikasi kemampuan, potensi, serta hambatan yang dimiliki peserta didik.
“Saya mendapatkan ilmu tentang bagaimana cara mengetahui profil dari para murid terkait dengan kemampuannya, potensi yang dimiliki dan kekurangan atau hambatan yang dimilikinya,” tuturnya.
Pengetahuan tersebut juga membantunya memodifikasi alat bantu yang dapat menunjang latihan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri peserta didik.
ToT tersebut diikuti atlet, pelatih dan penggerak olahraga dari berbagai kategori disabilitas. Kegiatan juga menghadirkan narasumber dari NPCI Pusat dan Universitas Negeri Surakarta.

