Insitekaltim, Samarinda – Deteksi dini, pengobatan segera, dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan penularan HIV dan tuberkulosis (TBC).
Kepala Dinkes Samarinda Ismid Kusasih, mengatakan, penderita penyakit menular harus segera mendapatkan pengobatan agar risiko penularan kepada orang lain dapat diminimalkan.
“Selain itu, pasien juga perlu dibekali pemahaman mengenai cara mencegah penularan penyakit,” kata Ismid Kosasih, Kamis, 2 Juli 2026.
Upaya tersebut terus diperkuat lanjutnya, mengingat kedua penyakit menular itu masih menjadi tantangan kesehatan yang memerlukan penanganan secara berkelanjutan.
Ismid Kusasih mengatakan, penderita penyakit menular harus segera mendapatkan pengobatan. Agar risiko penularan kepada orang lain, dapat diminimalkan.
Selain itu, pasien juga perlu dibekali pemahaman mengenai cara mencegah penularan penyakit.
“Kalau penyakit menular, yang jelas penderitanya harus segera diobati. Mereka juga harus tahu bagaimana cara mencegah agar penyakitnya tidak menular kepada orang lain,” ujarnya,
Terkait HIV, Ismid menjelaskan, penularan penyakit tersebut berkaitan dengan perilaku berisiko, termasuk hubungan seksual tanpa pengaman.
Menurutnya, upaya pencegahan perlu difokuskan pada edukasi masyarakat, mengenai perilaku hidup sehat. Pentingnya pemeriksaan atau tes HIV bagi kelompok yang berisiko, serta akses terhadap layanan pengobatan.
Sementara itu, untuk kasus TBC, Ismid menegaskan bahwa penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila penderita menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas.
Ia juga mengingatkan, pentingnya edukasi kepada keluarga yang tinggal serumah dengan pasien agar memahami cara mencegah penularan.
“Yang paling penting, penderita segera berobat karena TBC bisa sembuh asalkan minum obat secara teratur,” katanya.
Menurut Ismid, keberhasilan pengendalian TBC juga sangat bergantung pada kemampuan menemukan kasus sejak dini melalui skrining. Semakin cepat penderita teridentifikasi, semakin cepat pula pengobatan dapat diberikan sehingga risiko penularan dapat ditekan.
Ia mengakui, penemuan kasus TBC secara nasional masih menjadi pekerjaan rumah. Namun, capaian skrining di Kota Samarinda dinilai cukup baik karena angka penemuan kasus tergolong tinggi.
“Alhamdulillah, di Samarinda capaian skrining cukup tinggi, artinya upaya deteksi dini berjalan baik,” ungkapnya.
Ke depan, Dinkes Samarinda berharap penguatan regulasi daerah dapat semakin mendukung upaya pengendalian HIV dan TBC, mulai dari peningkatan skrining, edukasi masyarakat, hingga perluasan akses layanan kesehatan.

