Insitekaltim, Samarinda – Sebagai wilayah utama pendukung ibu kota baru, Pemerintah Kota Samarinda terus mempersiapkan berbagai infrastruktur strategis. Untuk mendukung konsep Tri City, yang digagas sebagai kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Konsep tersebut merupakan hasil kerja sama Pemerintah Indonesia, dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), yang melibatkan Samarinda, Balikpapan, dan IKN .
Asisten II Setda Kota Samarinda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Marnabas Patiroy mengatakan, pembahasan Tri City telah berlangsung sejak tahun lalu. Melalui sejumlah, pertemuan dengan JICA dan Kementerian PPN/Bappenas.
Menurutnya, Pemkot Samarinda mengusulkan agar wilayah Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Kartanegara (Kukar), dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Juga dilibatkan dalam pengembangan kawasan tersebut.
“Karena kalau bicara dukungan terhadap IKN, bukan hanya infrastruktur. Ketersediaan pangan dan kebutuhan dasar juga sangat bergantung pada daerah seperti Kukar dan PPU yang memiliki wilayah lebih luas,” ujarnya, di Gedung TAPD, Sekretariat Kota Samarinda Senin, 8 Juni 2026.
Ia menjelaskan, sejumlah program strategis telah disiapkan Samarinda untuk memperkuat posisinya sebagai kota penyangga IKN. Salah satunya, percepatan penanganan banjir yang selama ini menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
Selain itu, Pemkot juga tengah menyiapkan pengembangan Pelabuhan Palaran menjadi pelabuhan multipurpose sekaligus memperkuat fungsi terminal peti kemas yang ada di kawasan tersebut.
“Pengendalian banjir dan pengembangan infrastruktur menjadi fokus utama. Kami juga sudah memulai langkah-langkah percepatan pembangunan agar mampu mendukung kebutuhan IKN,” katanya.
Pemerintah Kota Samarinda juga merancang pengembangan kawasan Tepian Mahakam hingga Jembatan Mahakam I sebagai bagian dari penataan kota. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan konektivitas sekaligus mendukung sistem pengendalian banjir yang lebih efektif.
Menurutnya, konsep Tri City menjadi perhatian besar Bappenas dan JICA karena ketiga wilayah tersebut berada dalam satu koridor strategis yang saling terhubung dan memiliki peran penting dalam mendukung operasional IKN di masa mendatang.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kehadiran IKN tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga berpotensi menimbulkan tantangan sosial apabila tidak dikelola dengan baik.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah potensi meningkatnya urbanisasi ke Samarinda dan daerah penyangga lainnya. Menurutnya, arus perpindahan penduduk yang tidak diimbangi dengan keterampilan dan kompetensi memadai dapat menjadi beban baru bagi daerah.
“Jangan sampai urbanisasi yang terjadi justru menjadi masalah. Karena itu perlu disiapkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan agar mampu bersaing dan tidak menjadi beban bagi kota,” tegasnya.
Ia berharap, sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan berbagai pemangku kepentingan dapat terus diperkuat agar konsep Tri City mampu memberikan manfaat maksimal bagi pembangunan IKN dan daerah penyangganya.

