Insitekaltim, Samarinda — Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud mengungkapkan realisasi anggaran daerah tahun 2025 yang belum mencapai target maksimal dengan pendapatan daerah tercatat sebesar 93 persen dan serapan belanja masih berada di angka 86 persen.
Rudy Mas’ud menjelaskan, berdasarkan hasil briefing dan penyampaian target kerja kepada seluruh kepala perangkat daerah di awal tahun, sisa kas daerah saat ini masih berada di kisaran Rp788 miliar.
Ia menilai, capaian tersebut lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, meski serapan anggaran mengalami penurunan.
“Pendapatan daerah kita 93 persen, belanja baru 86 persen. Sisa kas daerah sekitar Rp788 miliar. tahun ini lebih baik dari sebelumnya, tetapi serapan anggaran memang menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 91 persen,” uungkapnya, Senin, 5 Januari 2026.
Menurut Rudy, pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan serapan anggaran ke depan, salah satunya dengan mempercepat proses lelang kegiatan di awal tahun, meniru pola yang diterapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Kita akan lakukan lelang lebih awal sesuai regulasi, supaya kegiatan tidak tertinggal dan tidak banyak pergeseran anggaran seperti tahun kemarin,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya perencanaan yang lebih matang agar kejadian serupa di tahun sebelumnya tidak terulang. Rudy menilai insiden ponton yang menabrak Jembatan Mahulu merupakan dampak dari perencanaan yang belum maksimal.
“Perencanaan harus lebih matang. Tahun kemarin itu seperti ditabrak-tabrak, bahkan ada dua ponton yang menabrak dan dibayar. Ini tidak boleh terulang,” tegasnya.
Selain itu, Rudy Mas’ud juga memberikan atensi serius terhadap kondisi jembatan strategis yang menjadi jalur utama distribusi logistik di Kaltim. Ia menegaskan jembatan tersebut belum direkomendasikan untuk dilintasi sebelum sistem pengaman berupa fender terpasang.
“Kami sangat tidak merekomendasikan jembatan ini dilewati sebelum fender dipasang. Fender itu satu-satunya pengaman utama bagi infrastruktur jembatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jembatan Mahulu merupakan satu-satunya akses penghubung utama distribusi barang dan logistik dari wilayah Samarinda Seberang dan Balikpapan menuju Samarinda Kota, Bontang, Kutai Kartanegara, hingga wilayah utara Kaltim. Sementara itu, Jembatan Mahakam dinilai sudah terlalu tua dan tidak memungkinkan untuk dilalui.
“Pelabuhan kontainer ada di Samarinda Seberang. Kalau jembatan ini bermasalah, distribusi logistik ke Samarinda Kota, Bontang, Kukar, hingga Kutai Timur akan terganggu,” jelasnya.
Rudy menambahkan, pemerintah daerah akan segera menggelar rapat lanjutan bersama pihak-pihak terkait untuk membahas langkah teknis penanganan jembatan tersebut, sembari menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah pusat.
“Kita akan rapatkan kembali hari ini dengan pihak terkait. Selanjutnya kita juga menunggu arahan dari pemerintah pusat,” pungkasnya.
