Insitekaltim, Samarinda – Penurunan jumlah titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur belum sepenuhnya mengakhiri persoalan kabut asap. Meski laporan kebakaran mulai berkurang di sejumlah daerah, asap dari kebakaran sebelumnya masih bertahan di atmosfer dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, pemantauan menunjukkan kecenderungan penurunan titik panas dalam beberapa waktu terakhir. Jumlahnya sempat berada di kisaran 600 titik, kemudian turun menjadi sekitar 300 titik.
Namun, angka tersebut tidak bisa langsung dimaknai sebagai jumlah kejadian kebakaran. Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang masih harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.
“Titik panas itu bukan kebakaran, itu pembacaan anomali di darat terhadap suhu permukaan. Itu harus divalidasi oleh kita,” kata Buyung, Selasa, 20 Oktober 2026.
Berdasarkan data laporan yang diterima BPBD pada periode 16–18 Oktober 2026, terdapat kecenderungan penurunan aktivitas kebakaran di sejumlah wilayah. Balikpapan, Berau, Bontang, dan Kutai Barat disebut tidak memiliki laporan kebakaran baru yang masuk selama periode tersebut.
Sementara di Kutai Kartanegara, laporan terakhir yang disebutkan BPBD tercatat pada 16 Oktober dengan dua kejadian. Adapun kawasan Sangatta, Kutai Timur, masih menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla.
Meski demikian, penurunan laporan belum menjamin kebakaran sepenuhnya berakhir. Buyung mencontohkan kebakaran di kawasan Pelita yang telah dipadamkan selama tiga hari berturut-turut, tetapi kembali muncul di area yang sama.
Kondisi itu diduga berkaitan dengan bara yang masih tersisa setelah pemadaman. Selain itu, kebakaran juga dapat muncul di titik berbeda sehingga petugas harus terus melakukan pemantauan dan penanganan.
Persoalan lain yang belum selesai ialah asap yang masih berada di atmosfer. Buyung menjelaskan, berkurangnya kebakaran baru, tidak serta-merta menghilangkan asap yang telah terakumulasi.
Kondisi cuaca dan intensitas sinar matahari turut memengaruhi bagaimana asap terlihat di permukaan. Ia berharap hujan yang lebih merata pada awal musim hujan, yang diperkirakan mulai November, dapat membantu mengurangi dampak kabut asap.
“Asap itu enggak akan bisa hilang. Dia bisa hilang kalau misalnya cahaya matahari tembus. Tapi kalau hilang, insyaallah setelah musim hujan,” ujarnya.
Buyung mengatakan hujan yang terjadi beberapa waktu terakhir belum cukup untuk memastikan kabut asap segera berakhir. Ia memperkirakan dibutuhkan hujan deras yang berlangsung beberapa hari, tetapi belum dapat memastikan durasi yang diperlukan karena bergantung pada kondisi atmosfer.

