Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengusulkan pembangunan tiga Sekolah Rakyat baru di Kutai Kartanegara, Bontang, dan Penajam Paser Utara (PPU). Namun, realisasi pembangunan tersebut masih bergantung pada kepastian anggaran dari pemerintah pusat.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kaltim Jaya Mualimin, mengatakan usulan tersebut telah memasuki tahap persiapan dengan kondisi berbeda di masing-masing lokasi. Salah satunya di Kutai Kartanegara yang masih menjalani proses analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).
“Mudah-mudahan tahun ini. Minggu depan saya mau ke Jakarta untuk memastikan apakah tahun ini bisa groundbreaking,” kata Jaya, di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu, 28 Oktober 2026.
Untuk pembangunan Sekolah Rakyat di Bontang menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Lahan seluas sekitar 8,7 hektare telah disiapkan dengan rencana kapasitas mencapai 2.000 siswa.
Sementara itu, lahan untuk pembangunan di Bontang dan PPU masih dalam tahap pematangan dan persiapan. Adapun kepastian pelaksanaan pembangunan di tiga lokasi tersebut belum dapat dipastikan karena pemerintah masih menunggu kejelasan dukungan anggaran dari kementerian terkait.
“Kalau anggarannya di kementerian bisa ada, rencananya di bulan Desember ada peletakan batu pertama,” ujarnya.
Di tengah rencana penambahan sekolah, Sekolah Rakyat terintegrasi di Palaran, Samarinda, telah beroperasi dan menampung siswa. Jaya menyebut kapasitas fasilitas tersebut sekitar 1.080 orang, sementara jumlah siswa yang ada saat ini disebut telah mendekati separuh kapasitas.
Tahun depan, pemerintah berencana menambah ruang belajar seiring rencana penambahan sekitar 90 siswa. Jumlah siswa yang semula sekitar 500 orang diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 600 orang, sebelum secara bertahap menyesuaikan kapasitas sekolah.
“Di tahun depan ruang belajarnya juga akan kita naikkan karena akan masuk sekitar 90 siswa yang akan menambah jumlahnya, yang tadinya cuma 500 sekarang mungkin sampai 600,” jelasnya.
Untuk mendukung operasional, Dinsos Kaltim juga mengaku telah menyiapkan guru dan calon siswa bagi program Sekolah Rakyat. Jaya mengatakan anak-anak dari panti yang berada pada jenjang kelas 1 hingga SMA menjadi bagian dari prioritas calon peserta didik.
Ia menyebut tenaga pengajar akan dipindahkan agar kegiatan belajar dapat langsung berjalan ketika fasilitas siap digunakan. Kesiapan sarana dasar seperti listrik dan air juga menjadi perhatian, mengingat Sekolah Rakyat menerapkan sistem berasrama.
“Untuk hal-hal lain, misalnya listrik dan air, itu juga sudah menjadi perhatian kita. Jangan sampai siswa masuk, apalagi ini sistemnya boarding atau berasrama,” tuturnya.

