Insitekaltim, Kukar – Perayaan Iduladha identik dengan suasana berkumpul bersama keluarga dan menikmati hidangan daging kurban di rumah. Orang yang memiliki usaha seperti warung pun banyak yang tutup sementara.
Berbeda dengan kebanyakan warung yang memilih tutup, Warung Puncak yang beralamat di Jalan Samarinda-Bontang kilometer 74 justru tetap buka saat Hari Raya Iduladha walau dengan jam buka yang berbeda dari hari biasa.

“Kami Iduladha tetap buka, hanya bukanya habis zuhur. Di hari biasa termasuk hari ini setelah Iduladha bukanya sudah dari pagi dan sampai malam,” terang pemilik warung, Wahid, di Desa Prangat Selatan, Kamis, 28 Mei 2026.
Ia mengaku, jumlah pembeli saat Iduladha memang menurun dibandingkan hari biasa. Banyak warga memilih menikmati masakan dari daging kurban di rumah masing-masing sehingga kebutuhan membeli makanan di warung menjadi berkurang.
“Jelas berbeda. Enggak seberapa banyak orang, karena sudah punya daging dan lauk sendiri,” tutunya.
Meski begitu, Wahid memilih tetap membuka warung karena merasa lebih produktif berada di tempat usahanya daripada hanya berdiam di rumah. Selain itu, ia menilai suasana Iduladha berbeda dengan Idulfitri yang biasanya dipenuhi kunjungan tamu keluarga.
“Kalau Iduladha kan enggak seberapa ada tamu. Jadi habis zuhur saja ke warung,” jelasnya.
Berbeda dengan Iduladha, Wahid mengaku selalu menutup warung selama tiga hari saat Idulfitri untuk fokus menerima tamu dan berkumpul bersama keluarga di rumah.
“Kalau Idulfitri saya tutup tiga hari. Jatahnya tiga hari di rumah untuk para tamu,” ucapnya.
Pada hari setelah Iduladha, Wahid sudah kembali beraktivitas sejak pagi. Ia menuturkan bahwa kesehariannya dimulai setelah mengantar anak sekolah dan memasak untuk persiapan makan siang pelanggan.
“Yang penting untuk makan siang sudah ready,” katanya.
Wahid mengaku bersyukur karena pada Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah tahun ini dirinya baru pertama kali menerima daging kurban dari warga RT 9. Sebelumnya pernah mendapat saat ia tinggal di RT 2.
“Selama tiga periode Iduladha itu enggak pernah nyembelih. Jadi ada inisiatif beberapa orang mengadakan kurban. Dagingnya bagus, ada dapat hampir satu kilogram campur sama jeroan dan lainnya,” ungkapnya.
Daging kurban yang diterimanya langsung diolah menjadi soto daging dan disantap bersama keluarga pada malam harinya. Ia pun berharap, usaha warung makannya bisa terus berkembang dan memberikan pelayanan yang lebih baik ke depan.
“Semoga ke depannya lebih baik, penyajian lebih baik, semuanya lebih baik dan semoga saya selalu diberi kesehatan,” pungkasnya.

