Insitekaltim, Samarinda – Pernah membuka media sosial tanpa tujuan, menggulir layar dari satu unggahan ke unggahan berikutnya, tetapi beberapa menit kemudian justru merasa bosan?
Saat memiliki waktu luang, membuka media sosial kerap menjadi pilihan untuk mengisi waktu. Satu aplikasi dibuka, layar terus digulir, hingga tanpa sadar waktu berlalu.
Menariknya, rasa bosan tidak selalu membuat seseorang berhenti menggunakan media sosial. Penelitian yang diterbitkan dalam Acta Psychologica pada 2026 terhadap 408 orang dewasa muda berusia 18–30 tahun menemukan bahwa kecenderungan mudah bosan berkaitan dengan meningkatnya information overload dan social media fatigue. Dalam penelitian tersebut, kelebihan informasi menjadi salah satu mekanisme yang menghubungkan rasa bosan dengan kelelahan menggunakan media sosial.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang melibatkan 286 pengguna media sosial. Penelitian itu menemukan adanya hubungan kuat antara boredom proneness dengan social media overload dan social media fatigue. Artinya, penggunaan media sosial untuk menghindari rasa bosan justru dapat berjalan beriringan dengan munculnya rasa lelah akibat terlalu banyak informasi.
Fenomenanya bisa terasa sederhana. Ketika sedang menunggu atau tidak memiliki kegiatan, tangan secara otomatis mengambil ponsel. Tidak ada informasi tertentu yang ingin dicari, tetapi aktivitas menggulir tetap berlanjut karena selalu ada konten baru yang tersedia.
Di sinilah media sosial memiliki peran yang berbeda dari sekadar alat komunikasi. Aliran konten yang tidak ada habisnya membuat pengguna tidak harus menentukan sendiri apa yang ingin dilihat. Satu konten dapat membawa pengguna ke konten berikutnya, hingga akhirnya waktu berlalu tanpa terasa.
Namun, banyaknya konten tidak selalu berarti semakin banyak kepuasan. Peneliti menemukan bahwa pemahaman pengguna terhadap cara kerja konten yang dikurasi algoritma dapat membantu mengurangi hubungan antara kebosanan, kelebihan informasi, dan kelelahan menggunakan media sosial.
Penelitian lain yang melibatkan lebih dari 28 ribu responden melalui meta-analisis 64 studi juga menunjukkan bahwa information overload, social overload, kecemasan terhadap media sosial, serta faktor perilaku tertentu merupakan sejumlah faktor yang berkaitan dengan social media fatigue.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata soal berapa lama seseorang menggulir media sosial. Pertanyaan yang lebih sederhana justru bisa dimulai dari alasan membuka aplikasi tersebut.
Apakah memang sedang mencari informasi? Ingin berkomunikasi? Mencari hiburan? Atau hanya karena sedang bosan?
Sesekali berhenti untuk menyadari alasan tersebut dapat membantu seseorang melihat kembali pola penggunaan media sosialnya. Sebab, ketika rasa bosan justru membuat layar terus digulir tanpa tujuan, hiburan yang dicari belum tentu benar-benar membuat pikiran beristirahat.

