
Insitekaltim, Samarinda – Keluhan pedagang terkait menurunnya jumlah pengunjung Pasar Pagi Samarinda pasca revitalisasi kembali mencuat.
Sejumlah pedagang menilai keberadaan ruko-ruko lama yang masih berdiri di sekitar kawasan pasar menjadi salah satu faktor yang membuat bangunan baru kurang terlihat dan berdampak pada sepinya pembeli.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda Abdul Rohim menilai persoalan tersebut tidak bisa disederhanakan hanya dengan menyalahkan keberadaan ruko-ruko yang masih bertahan.
Ruko-ruko yang tidak direlokasi merupakan aset milik pribadi yang memiliki hak kepemilikan sah dan dilindungi oleh undang-undang. Karena itu, pemerintah tidak bisa memaksa pemiliknya untuk pindah.
“Ruko-ruko itu kan hak milik pribadi. Dulu memang ada persoalan saat proses pembebasan karena sebagian pemilik menolak direlokasi. Itu hak yang dilindungi undang-undang sehingga pemerintah tidak bisa memaksakan pemindahan,” kata Rohim di DPRD Samarinda, Selasa, 9 Juni 2026.
Pemerintah hanya dapat menempuh pendekatan komunikasi dengan para pemilik ruko. Namun, penyebab menurunnya kunjungan ke Pasar Pagi perlu dikaji lebih komprehensif karena dipengaruhi banyak faktor.
Kondisi ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi daya beli dan aktivitas perdagangan. Selain itu, proses revitalisasi yang berlangsung cukup lama membuat pedagang kehilangan pelanggan lama yang selama ini menjadi basis usaha mereka.
“Pasar Pagi sudah lama tidak beroperasi saat proses pembangunan. Selama itu pula pelanggan mereka mencari alternatif tempat belanja lain. Ketika pedagang kembali masuk ke pasar yang baru, sebagian pelanggan lama sudah berpindah dan belum tentu kembali,” ujarnya.
Politikus PKS itu juga menyoroti konsep pembangunan pasar yang dilakukan secara vertikal. Berdasarkan sejumlah pengalaman di daerah lain, pasar yang dibangun bertingkat umumnya menghadapi tantangan dalam menarik kembali pengunjung.
“Memang ada kecenderungan pasar yang direnovasi secara vertikal mengalami penurunan kunjungan. Orang sering merasa lebih rumit, lebih jauh, atau kurang nyaman dibanding pasar yang konsepnya horizontal,” katanya.
Meski demikian, kondisi lahan di kawasan Pasar Pagi yang terbatas membuat pemerintah tidak memiliki banyak pilihan saat menyusun desain revitalisasi.
DPRD sebenarnya telah menerima paparan desain pembangunan Pasar Pagi sejak tahap perencanaan. Namun saat itu belum ada prediksi bahwa penurunan kunjungan akan terjadi secara signifikan setelah pasar selesai dibangun.
“Desainnya sudah dipaparkan sejak awal. Tapi tentu kita tidak menduga setelah renovasi ternyata kunjungannya turun cukup drastis seperti sekarang,” ujarnya.
Karena bangunan telah selesai dibangun dan digunakan, fokus pemerintah saat ini, lanjut Rohim, bukan lagi memperdebatkan desain, melainkan mencari strategi untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di Pasar Pagi.
Ia mendorong Pemkot Samarinda segera melakukan kajian mendalam sekaligus menyiapkan langkah konkret untuk meningkatkan jumlah pengunjung. Salah satunya dengan memperkuat posisi Pasar Pagi sebagai pusat perdagangan grosir terbesar di Samarinda.
“Pemerintah harus mencari cara agar Pasar Pagi punya daya tarik yang kuat. Misalnya memastikan pasar ini benar-benar menjadi pusat grosir dengan harga yang lebih kompetitif dibanding tempat lain,” katanya.
Selain itu, berbagai bentuk promosi dan kerja sama antara pemerintah dengan pedagang juga dinilai perlu dilakukan agar pasar yang telah menelan anggaran besar tersebut kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Yang sekarang dibutuhkan adalah upaya mengembalikan pengunjung. Bisa lewat promosi, kerja sama pemasaran, atau strategi lain yang membuat masyarakat kembali berbelanja ke Pasar Pagi,” pungkas Rohim.

