Insitekaltim, Samarinda – Asisten II SekretarisKota Samarinda Marnabas Patiroy menekankan pentingnya perubahan pola kerja di lingkungan pemerintah daerah dari sekadar bekerja keras menjadi bekerja cerdas.
Menurutnya, kondisi saat ini menuntut pemerintah tidak hanya menjalankan program secara rutin, tetapi mampu memastikan setiap kebijakan dan penggunaan anggaran memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Sekarang kita harus bertransformasi dari bekerja keras menjadi bekerja cerdas,” ujarnya saat diwawancara, Rabu 1 April 2026.
Selama ini banyak program yang telah dijalankan dengan upaya maksimal. Namun, belum sepenuhnya memberikan hasil optimal karena kurangnya integrasi dan strategi yang tepat.
Salah satu contoh yang disorot adalah pengembangan fasilitas yang sudah ada seperti berbagai destinasi atau potensi lokal di beberapa wilayah.
“Fasilitas itu sebenarnya sudah dibangun dengan kerja keras oleh pemerintah di tingkat kelurahan dan kecamatan,” katanya.
Namun, tantangan utama terletak pada bagaimana menghubungkan dan menghidupkan potensi tersebut agar benar-benar memberikan manfaat ekonomi.
“Bagaimana orang mau datang kalau jalannya tidak bagus? Infrastruktur harus mendukung,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran komunikasi dalam memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas. Tanpa promosi yang baik menurutnya, potensi yang ada tidak akan dikenal, meskipun secara kualitas sudah layak.
“Harus disampaikan bahwa di sini ada tempat yang bagus, tapi memang sesuai fakta,” ucapnya.
Lebih lanjut, Marnabas menyoroti pentingnya penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui strategi yang lebih terarah. Ia mencontohkan bagaimana fasilitas publik dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat luar daerah untuk datang ke Samarinda.
Menurutnya ketika kunjungan meningkat, maka akan berdampak langsung pada aktivitas ekonomi seperti penginapan, konsumsi, hingga belanja masyarakat.
“Kalau orang datang, mereka bermalam, belanja, makan, itu akan menambah PAD,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung rencana pengoperasian pasar buah di kawasan Pasar Merdeka, yang diharapkan dapat menjadi pusat aktivitas perdagangan yang lebih terorganisir. Dengan adanya fasilitas tersebut, masyarakat tidak perlu lagi berpindah-pindah untuk memenuhi kebutuhan.
Selain itu, pengembangan Pasar Segiri juga diharapkan dapat menjadi pusat distribusi kebutuhan pokok yang lebih terfokus.
Marnabas menegaskan bahwa perubahan paradigma ini menjadi penting, terutama di tengah keterbatasan anggaran akibat penurunan transfer ke daerah.
“Kita tidak boleh hanya mengeluh, tapi harus mencari solusi,” tegasnya.
Lebih jauh, setiap rupiah yang digunakan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus memiliki dampak yang jelas bagi masyarakat.
Di sisi lain ia menyoroti posisi Samarinda dalam menghadapi kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) yang membawa peluang sekaligus tantangan.
Menurutnya, jika tidak dikelola dengan baik, arus masuk penduduk justru dapat menimbulkan masalah baru, seperti pengangguran dan tekanan terhadap infrastruktur. Namun, ia optimistis kondisi tersebut dapat diubah menjadi peluang jika dikelola secara tepat.
“Peluang dan tantangan harus kita jadikan peluang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sektor pertanian, perdagangan hingga investasi dapat menjadi ruang bagi masyarakat pendatang untuk berkontribusi dalam perekonomian daerah.
”Dan juga isu inflasi di Samarinda yang selama ini dipengaruhi oleh ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah,” terangnya.
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola dengan baik melalui manajemen yang tepat.
“Yang kita ubah sekarang adalah cara berpikir dan cara bekerja,” pungkasnya.

