Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mendorong penguatan ketahanan pangan keluarga melalui program urban farming sebagai strategi jangka panjang untuk mengendalikan inflasi daerah. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan dibanding hanya mengandalkan operasi pasar dan pemantauan harga.
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri mengatakan, pengendalian inflasi harus dibarengi dengan upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.
“Kita berharap inflasi dapat terus turun. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui urban farming, sehingga masyarakat dapat memproduksi sebagian kebutuhan pangannya sendiri,” ujarnya saat membuka kegiatan Capacity Building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Samarinda di Ruang Arutala Bapperida, Kamis, 23 Juli 2026.
Saefuddin menyebutkan inflasi Kota Samarinda yang masih berada di angka 3,53 persen, secara year-on-year perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan agar tidak terus meningkat.
Karena itu, Pemkot Samarinda mendorong urban farming menjadi gerakan bersama yang dimulai dari tingkat keluarga hingga kelurahan. Menurutnya, program tersebut tidak hanya meningkatkan ketersediaan pangan rumah tangga dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, tetapi juga mampu menekan pengeluaran keluarga serta meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Ia juga menginstruksikan camat dan lurah untuk menggerakkan program tersebut dengan melibatkan PKK, kelompok tani, sekolah, rumah ibadah, hingga berbagai komunitas masyarakat.
Selain itu, setiap kelurahan didorong memiliki demonstration plot (demplot) sebagai pusat edukasi dan praktik bercocok tanam yang didukung pendampingan, penyediaan sarana, serta pelatihan dari perangkat daerah terkait.
Untuk memperkuat upaya pengendalian inflasi, Pemkot Samarinda juga berkomitmen menerapkan strategi 4K, yakni menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Menurut Saefuddin, keberhasilan strategi tersebut membutuhkan sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Bagian Ekonomi Setda Kota Samarinda Nadya Turisna melaporkan inflasi Kota Samarinda pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,53 persen secara year-on-year. Adapun inflasi month-to-month mencapai 0,72 persen, sedangkan inflasi year-to-date berada di angka 2,63 persen.

