Insitekaltim, Samarinda – Penyempitan pembuluh darah merupakan kondisi yang perlu diwaspadai karena prosesnya dapat berlangsung perlahan tanpa selalu menimbulkan gejala pada tahap awal. Ketika penyempitan semakin berat, aliran darah ke organ tubuh dapat terganggu dan memicu berbagai penyakit serius.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Habibie Arifianto menjelaskan, penyempitan pembuluh darah umumnya berkaitan dengan proses aterosklerosis, yakni penumpukan plak di dalam dinding pembuluh darah.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan erat dengan faktor risiko yang tidak dikendalikan dengan baik, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok hingga faktor genetik.
Kolesterol Bisa Menumpuk Menjadi Plak
Aterosklerosis bermula ketika lapisan paling dalam pembuluh darah atau sel endotel mengalami gangguan fungsi. Kondisi tersebut membuat LDL atau kolesterol jahat serta berbagai zat lain lebih mudah masuk ke dinding pembuluh darah.
Zat tersebut kemudian mengalami proses oksidasi dan menumpuk hingga membentuk plak aterosklerosis. Seiring waktu, plak dapat semakin menebal dan membuat diameter pembuluh darah menyempit.
“Penyakit ini terjadi karena adanya faktor risiko yang tidak tertangani dengan baik, seperti penyakit gula, tekanan darah tinggi, kebiasaan merokok, kolesterol tinggi dan faktor genetik atau keturunan,” kata Habibie saat menjadi pemateri di RSUD I.A. Moeis belum lama ini.
Masalahnya, proses tersebut tidak hanya terjadi pada satu bagian tubuh. Penyempitan dapat berlangsung pada pembuluh darah di berbagai organ.
Lokasi Penyempitan Menentukan Penyakitnya
Dampak penyempitan pembuluh darah bergantung pada lokasi pembuluh yang terdampak. Jika terjadi pada pembuluh darah jantung, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit jantung koroner dan meningkatkan risiko serangan jantung.
Sementara jika penyempitan terjadi pada pembuluh darah otak, gangguan aliran darah dapat berkaitan dengan stroke. Penyempitan pada pembuluh darah kaki juga dapat menyebabkan penyakit arteri perifer.
Artinya, penyempitan pembuluh darah bukan hanya persoalan jantung. Gangguan yang sama dapat memengaruhi berbagai organ penting apabila aliran darah tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.
Diabetes dan Hipertensi Perlu Dikendalikan
Karena aterosklerosis berkaitan erat dengan faktor risiko, pengendalian penyakit yang sudah dimiliki menjadi bagian penting dalam mencegah penyempitan pembuluh darah semakin berat.
Diabetes, tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi yang tidak terkontrol dapat terus memberikan tekanan terhadap sistem pembuluh darah. Kebiasaan merokok juga menjadi salah satu faktor yang perlu dihindari.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala diperlukan terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko tersebut. Dengan mengetahui kondisi sejak awal, dokter dapat menentukan langkah penanganan sebelum penyempitan berkembang menjadi gangguan aliran darah yang lebih berat.
Tidak Semua Penyempitan Langsung Dipasang Ring
Penanganan penyempitan pembuluh darah tidak selalu harus dilakukan dengan pemasangan ring. Dokter terlebih dahulu akan menilai tingkat penyempitan, kondisi pasien, faktor risiko serta apakah aliran darah ke organ sudah terganggu.
Habibie menjelaskan, pada penyempitan yang belum signifikan mengganggu aliran darah, pengendalian faktor risiko dan pemberian obat dapat menjadi bagian dari penanganan.
Salah satu kelompok obat yang dapat digunakan adalah statin, seperti simvastatin, atorvastatin dan rosuvastatin. Obat tersebut antara lain digunakan untuk membantu mengendalikan kadar kolesterol dan menstabilkan plak sehingga risiko penyempitan lebih lanjut dapat ditekan.
Jika Sudah Berat, Tindakan Medis Bisa Diperlukan
Ketika penyempitan sudah berat dan menyebabkan gangguan aliran darah atau kekurangan oksigen pada jaringan, dokter dapat mempertimbangkan tindakan medis sesuai lokasi dan kondisi pasien.
Pada kondisi tertentu, tindakan kateterisasi dan pemasangan ring dapat dilakukan untuk membantu membuka pembuluh darah yang mengalami penyempitan.
Namun, keputusan melakukan tindakan tersebut tidak semata-mata berdasarkan persentase penyempitan. Kondisi klinis pasien dan dampaknya terhadap aliran darah juga perlu menjadi pertimbangan dokter.
Karena itu, gejala seperti nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, sesak napas, pusing, kelemahan hingga gangguan kesadaran tidak sebaiknya diabaikan, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit pembuluh darah.
Jangan Menunggu Sampai Aliran Darah Terganggu
Penyempitan pembuluh darah dapat berkembang tanpa disadari. Ketika gejala mulai muncul, gangguan yang terjadi bisa saja sudah cukup berat.
Karena itu, menjaga tekanan darah, gula darah dan kolesterol tetap terkendali, tidak merokok, menerapkan pola hidup sehat serta melakukan pemeriksaan kesehatan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko aterosklerosis.

