Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Efisiensi Anggaran Jadi Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Samarinda Melambat ke 6,22 Persen

    July 27, 2026

    Pemprov Kaltim Pasang CCTV, Untuk Pantau Pencurian MCB dan Kabel di Jembatan Mahulu

    July 27, 2026

    Disdukcapil Kaltim Ingatkan Maraknya Modus Penipuan Berkedok Aktivasi IKD

    July 27, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lainnya»Objektivitas Jurnalisme Dinilai Sulit Dicapai, Wartawan Ditekankan Tetap Jaga Integritas
    Lainnya

    Objektivitas Jurnalisme Dinilai Sulit Dicapai, Wartawan Ditekankan Tetap Jaga Integritas

    RidhoBy RidhoDecember 30, 2025Updated:February 4, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Dhita Apriliani, jurnalis dari Infosatu ketika sharing bersama
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda — Jurnalis Infosatu Dhita Apriliani menyebutkan, objektivitas kerap disebut sebagai fondasi utama profesi wartawan. Namun dalam praktiknya, objektivitas murni ini bukanlah perkara yang sederhana untuk dilakukan.

    Ia mengatakan, perdebatan di kalangan akademisi dan praktisi jurnalisme menunjukkan kecenderungan yang sama, bahwa objektivitas absolut sulit dicapai karena wartawan tetaplah manusia dengan latar belakang yang berbeda, pengalaman, dan sudut pandang yang cukup berbeda.

    “Objektif itu bukan berarti wartawan ini tidak punya pandangan, tetapi bagaimana ia menahan sudut pandangan pribadinya agar tidak mendominasi fakta tersebut,” ujar Dhita Apriliani Selasa, 30 Desember 2025.

    Selain itu, objektivitas dalam jurnalisme kini tidak lagi dipahami sebagai karakter personal wartawan, melainkan sebagai metode kerja dilapangan. Bahkan, objektif juga dimaknai sebagai upaya menyajikan keadaan sebagaimana adanya, tanpa dipengaruhi kepentingan pribadi maupun tekanan eksternal.

    “Karena kita manusia subjektivitas pasti ada. Tantangannya adalah bagaimana subjektivitas itu tidak mengaburkan fakta yang ada,” ungkapnya.

    Seiring sulitnya mencapai objektivitas murni, media massa menggeser fokus pada tiga pilar utama integritas jurnalistik yakni, transparansi, keberimbangan, dan akurasi.

    Ia menjelaskan, transparansi dilakukan dengan menunjukkan sumber informasi, dokumen, serta narasumber secara jelas. Keberimbangan diwujudkan melalui pemberian ruang bagi berbagai sudut pandang, sementara akurasi menjadi fondasi utama dengan mengutamakan fakta yang telah diverifikasi.

    “Ketika semua data dibuka secara transparan dan diverifikasi publik bisa menilai sendiri kebenarannya. Di situlah kepercayaan dapat dibangun,” jelasnya.

    Kemudian di sisi lain, ia mengungkapkan wartawan juga memikul tanggung jawab atas dampak sosial dari berita yang mereka tulis terutama di era sekarang serba viral.

    “Berita yang viral meskipun faktanya benar tetap harus mempertimbangkan dampak sosialnya. Wartawan tidak bisa lepas tangan begitu saja,” tegasnya.

    Lebih dalam ia menyinggung dampak sosial yang ditimbulkan tersebut dapat melemahnya Informasi yang tidak terverifikasi berpotensi memicu kepanikan, mempersempit ruang dialog, serta menurunkan kemampuan berpikir kritis di masyarakat.

    “Ketika informasi datang terlalu cepat tanpa konteks yang jelas, masyarakat tidak punya waktu untuk mencerna berita itu secara kritis,” lanjutnya.

    Sebelum menutup, Dhita menyampaikan dalam hal tersebut, literasi media dinilai sebagai solusi penting. Masyarakat perlu untuk dibekali kemampuan itu, untuk mempertanyakan sumber, bukti paling minimal, serta kepentingan di balik sebuah informasi tersebut.

    “Tanpa literasi dari media manapun, teknologi digital justru berubah dari alat pemberdayaan menjadi senjata kesalahpahaman itu sendiri,” pungkasnya

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ridho

    Related Posts

    The Founding of YouTube A Short History

    July 14, 2026

    Elementor #81471

    July 2, 2026

    Mengapa Tanah Mengeluarkan Aroma Khas Setelah Hujan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

    June 7, 2026

    Sekber Tiga Organisasi Media Resmi Terbentuk, Siap Kawal Kebijakan dan Cegah Pemimpin Terseret Hukum

    May 1, 2026

    Menelisik Makna Self-Healing Lewat Buku What’s So Wrong About Your Self Healing

    February 22, 2026

    GONG XI HAPPY: Lagu Baru Raih Sorotan di Tengah Gelombang Keceriaan Imlek

    February 16, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Efisiensi Anggaran Jadi Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Samarinda Melambat ke 6,22 Persen

    Nur AjijahJuly 27, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda mencatat laju pertumbuhan ekonomi 2025, berada di…

    Pemprov Kaltim Pasang CCTV, Untuk Pantau Pencurian MCB dan Kabel di Jembatan Mahulu

    July 27, 2026

    Disdukcapil Kaltim Ingatkan Maraknya Modus Penipuan Berkedok Aktivasi IKD

    July 27, 2026

    Dua Wakil Indonesia Siap Bersaing di Srikandi Merdeka Cup 2026

    July 27, 2026

    BPBD Kaltim Gandeng Dunia Usaha Percepat Pemulihan Pascabencana

    July 27, 2026
    1 2 3 … 3,242 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.