Insitkaltim, Samarinda – Setelah hampir sembilan tahun tidak tampil dalam agenda publik terbuka, mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dua periode, Rita Widyasari, kembali menyapa masyarakat dan insan pers.
Dalam kemunculannya di acara Wartawan Legend Bedapatan di Samarinda, Rita menyoroti pentingnya menjaga prinsip keberimbangan dan konfirmasi dalam pemberitaan agar informasi yang diterima publik tetap akurat dan adil.
Dalam kesempatan itu, Rita mengenang hubungan yang terjalin erat antara pemerintah daerah dan insan pers selama dirinya menjabat sebagai kepala daerah. Menurutnya, media memiliki peran penting sebagai jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Saya ini bagian dari wartawan juga dalam arti sebagai sumber berita. Wartawan bagi saya adalah orang-orang yang membantu menyampaikan berbagai hal kepada masyarakat,” ungkapnya.
Di hadapan ratusan wartawan, tokoh masyarakat, serta pejabat pemerintah yang hadir, Rita juga menyampaikan pandangannya mengenai dinamika dunia jurnalistik saat ini yang dinilainya semakin dipengaruhi oleh kecepatan arus informasi.
Ia mengapresiasi peran media dalam menjalankan fungsi kontrol sosial, namun mengingatkan pentingnya menjaga akurasi, verifikasi, dan prinsip keberimbangan dalam setiap pemberitaan.
Menurut Rita, sebuah informasi yang dipublikasikan tanpa proses konfirmasi yang memadai berpotensi menimbulkan persepsi yang tidak utuh di tengah masyarakat.
“Wartawan sekarang banyak membedah kasus dan berbagai persoalan publik. Itu baik, tetapi harus semakin tajam dan terpercaya sehingga benar-benar menjadi corong masyarakat. Satu kesalahan dalam pemberitaan bisa menimbulkan ketidakadilan yang panjang,” katanya.
Rita mengaku pernah menemukan sejumlah pemberitaan mengenai dirinya yang menurutnya belum memberikan ruang konfirmasi secara langsung. Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas informasi yang beredar di ruang publik.
“Kalau saat saya masih menjabat mungkin tidak ada masalah karena aksesnya terbuka. Tetapi setelah itu saya membaca beberapa berita yang menurut saya seharusnya masih bisa dikonfirmasi. Karena informasi idealnya disampaikan dari dua sisi,” jelasnya.
Meski memahami adanya keterbatasan akses terhadap dirinya dalam beberapa tahun terakhir, Rita tetap berharap media terus menjunjung tinggi prinsip keberimbangan sebagai salah satu fondasi utama kerja jurnalistik.
“Kadang ada berita yang muncul tanpa kesempatan bagi saya untuk memberikan penjelasan. Padahal akan lebih baik jika kedua belah pihak sama-sama didengar sehingga informasi yang sampai kepada masyarakat menjadi lebih lengkap,” tuturnya.
Selain berbicara mengenai dunia pers, Rita juga mengungkapkan aktivitasnya setelah kembali berada di Kukar. Saat ini ia mengaku belum memiliki agenda khusus di ruang publik dan memilih lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat.
Menurutnya, kedekatan dengan warga menjadi hal yang ingin dibangun kembali setelah cukup lama tidak berada di tengah kehidupan sosial masyarakat Kukar.
“Saya ingin dekat dengan rakyat saja. Kalau bisa berada di tengah masyarakat, mendengar mereka, dan membantu dengan cara yang saya mampu,” tuturnya.
Rita bahkan menceritakan pengalamannya saat bertemu sejumlah pedagang yang mengaku dagangannya menjadi lebih ramai setelah ia membeli produk mereka. Kisah itu kemudian disambut candaan pembawa acara yang menyebut dirinya berpotensi menjadi influencer baru di Kukar.
Menutup dialog, Rita mengajak insan pers untuk terus menjaga integritas profesi sekaligus menghargai kontribusi para wartawan senior yang telah mewarnai perjalanan jurnalistik di Kalimantan Timur.
Menurutnya, pers yang kuat dan profesional akan menjadi salah satu penopang terciptanya pemerintahan yang sehat dan kehidupan demokrasi yang lebih baik.
“Kalau wartawannya baik, mudah-mudahan suasana juga semakin baik. Pemerintahan bisa berjalan nyaman dan benar. Yang paling penting adalah kebenaran itu sendiri,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan penghormatan kepada para wartawan senior yang selama bertahun-tahun menjalankan tugas jurnalistik di berbagai situasi dan tantangan.
“Itu bukan hal biasa. Itu perjuangan yang harus dihargai,” pungkasnya.

