Insitekaltim, Samarinda – Pagi baru saja dimulai ketika arus kendaraan memenuhi jalan-jalan utama di Samarinda. Sepeda motor berderet di lampu merah, mobil bergerak perlahan mengikuti kepadatan lalu lintas, sementara para pengendara berusaha tiba di tempat tujuan tepat waktu. Pemandangan seperti ini bukan hanya terjadi pada satu titik, melainkan hampir di seluruh penjuru kota.
Di tengah padatnya kendaraan yang setiap hari memadati jalan, muncul sebuah pertanyaan yang jarang dibahas. Apakah warga Samarinda benar-benar memilih menggunakan kendaraan pribadi, atau mereka memang tidak memiliki banyak pilihan lain?
Bagi sebagian masyarakat, memiliki sepeda motor sudah menjadi kebutuhan dasar untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kendaraan roda dua digunakan untuk berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, berbelanja kebutuhan rumah tangga, hingga menghadiri berbagai urusan lainnya. Tanpa kendaraan pribadi, mobilitas menjadi jauh lebih sulit.
Kondisi tersebut tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, transportasi umum semakin jarang terlihat di sejumlah ruas jalan kota. Angkutan kota yang dahulu menjadi pilihan masyarakat kini tidak lagi mudah ditemukan seperti sebelumnya. Di beberapa kawasan, warga bahkan harus menunggu cukup lama untuk menemukan angkutan yang melintas.
Bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi, membeli sepeda motor sering kali dipandang sebagai investasi untuk mempermudah aktivitas sehari-hari. Dengan satu kendaraan, berbagai kebutuhan dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat tanpa harus menyesuaikan jadwal atau rute angkutan umum.
Namun kondisi ini juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak semua warga memiliki kemampuan untuk membeli kendaraan. Sebagian masyarakat harus mengandalkan bantuan keluarga, menumpang teman, menggunakan ojek daring atau mencari alternatif lain agar tetap dapat beraktivitas.
Di sisi lain, Samarinda terus berkembang sebagai pusat pemerintahan, pendidikan dan ekonomi di Kalimantan Timur. Kawasan permukiman baru bermunculan, pusat perdagangan semakin ramai dan mobilitas masyarakat terus meningkat. Pertumbuhan tersebut menciptakan kebutuhan transportasi yang semakin besar dari tahun ke tahun.
Sayangnya, pertumbuhan kota tidak selalu diikuti dengan tersedianya transportasi publik yang mampu menjangkau kebutuhan masyarakat secara luas. Akibatnya, kendaraan pribadi menjadi pilihan utama, bahkan bagi mereka yang sebenarnya berharap memiliki alternatif transportasi lain yang lebih terjangkau dan mudah diakses.
Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi pada akhirnya tidak hanya berdampak pada kepadatan lalu lintas. Kondisi ini juga menciptakan kesenjangan mobilitas antara warga yang memiliki kendaraan dan mereka yang tidak. Ketika akses transportasi bergantung pada kepemilikan kendaraan pribadi, maka kemampuan seseorang untuk bekerja, belajar atau mengakses layanan publik juga ikut dipengaruhi.
Persoalan transportasi pada dasarnya bukan hanya soal bagaimana masyarakat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, transportasi berkaitan dengan akses terhadap kesempatan. Kemudahan mencapai sekolah, kampus, tempat kerja, fasilitas kesehatan, maupun pusat layanan publik sangat menentukan kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, pembahasan mengenai transportasi di Samarinda tidak seharusnya berhenti pada isu kemacetan semata. Di balik padatnya jalanan setiap pagi dan sore, terdapat pertanyaan yang lebih penting. Apakah seluruh warga memiliki kesempatan yang sama untuk bergerak dan beraktivitas di dalam kota?
Seiring Samarinda yang terus tumbuh dan berkembang, pertanyaan tersebut akan menjadi semakin relevan. Sebab sebuah kota yang baik bukan hanya kota yang memiliki banyak jalan dan kendaraan, tetapi juga kota yang mampu memastikan setiap warganya dapat bepergian dengan aman, mudah dan terjangkau, terlepas dari apakah mereka memiliki kendaraan pribadi atau tidak.

