Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Tragis di Balik Magang: Siswa di Samarinda Meninggal Mendadak Usai Keluhkan Sepatu Sempit

    Mei 1, 2026

    Perempuan Pekerja Samarinda Angkat Suara: Diskriminasi, Upah Murah, hingga Kekerasan Masih Jadi Realita

    Mei 1, 2026

    Hak Angket DPRD Kaltim Masih Menggantung, Tarik Ulur Politik Fraksi Jadi Penghambat

    Mei 1, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Tokoh
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    insitekaltim.com
    Home»Lainnya»Menelisik Makna Self-Healing Lewat Buku What’s So Wrong About Your Self Healing
    Lainnya

    Menelisik Makna Self-Healing Lewat Buku What’s So Wrong About Your Self Healing

    RidhoBy RidhoFebruari 22, 2026Updated:Februari 22, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Buku What’s So Wrong About Your Self Healing, karya Ardhi Mohamad (Insitekaltim/Ridho Wardhana)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda — Di tengah maraknya tren self-healing di kalangan generasi muda Indonesia, buku What’s So Wrong About Your Self Healing hadir sebagai karya yang tidak sekadar mengikuti arus popularitas. Buku ini justru mengajak pembaca memahami makna penyembuhan diri secara lebih mendalam, baik dari sisi psikologis maupun spiritual.

    Teks: Salah satu halaman buku yang memuat kutipan reflektif bermakna (Insitekaltim/Ridho Wardhana)

    Buku setebal 276 halaman ini disusun dalam format jurnal reflektif yang sederhana, namun tajam. Melalui pertanyaan-pertanyaan esensial seperti mengapa merasa tidak berharga, kenapa selalu merasa kurang, hingga apa makna self-healing sebenarnya, pembaca diajak menelusuri dinamika batin yang kerap hadir dalam kehidupan modern.

    Penulis buku ini Ardhi Mohamad menegaskan, karyanya tidak dimaksudkan untuk mempopulerkan self-healing sebagai istilah semata. Ia justru membongkar berbagai kesalahpahaman yang sering melekat pada konsep tersebut di masyarakat.

    Dalam buku ini, self-healing dipahami bukan sebagai upaya melarikan diri dari masalah atau sekadar mencari kesenangan sesaat, melainkan proses panjang yang menuntut keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri dan keterlibatan batin secara utuh.

    Salah satu bagian yang banyak mendapat sorotan adalah pembahasan mengenai relasi dengan orang tua. Ardhi mengulas bagaimana pola asuh dan pengalaman masa kecil membentuk cara seseorang memandang diri sendiri serta menghadapi kehidupan di masa dewasa. Ia menekankan bahwa luka emosional tidak selalu lahir dari satu peristiwa besar, tetapi juga dari relasi mendasar yang terbangun sejak dini.

    Menariknya, pembaca tidak diajak untuk larut dalam sikap menyalahkan masa lalu atau orang lain. Sebaliknya, buku ini mendorong proses berdamai dengan pengalaman tersebut sebagai langkah awal menuju pemulihan diri.

    Selain relasi keluarga, buku ini juga menyinggung persoalan kesepian, kecemasan, kebutuhan akan pengakuan, hingga rasa kehilangan arah hidup yang kerap dialami banyak orang. Ardhi tidak hanya memetakan persoalan, tetapi juga mengajak pembaca menemukan makna hidup melalui penerimaan diri (self-acceptance) dan kedekatan dengan nilai-nilai spiritual.

    Buku ini turut mendapat perhatian dari sejumlah pembaca, salah satunya Rania, seorang pengulas buku yang membagikan refleksinya melalui akun TikTok Rania Book & Study. Dalam ulasannya, Rania menyoroti bagaimana buku ini mengangkat berbagai persoalan yang berpotensi melukai kondisi psikologis seseorang, mulai dari tuntutan orang tua, standar kesuksesan yang tinggi, hingga perasaan gagal dan kehilangan tujuan hidup.

    “Pahitnya perubahan sering kali terasa menyakitkan, tetapi justru di situlah proses pertumbuhan dimulai,” ujar Rania dalam salah satu refleksinya.

    Ia juga menegaskan bahwa self-healing bukan sekadar tren atau aktivitas relaksasi semata.

    “Self-healing bukan tentang lari dari masalah, tetapi tentang memahami, menerima, dan memperbaiki diri secara perlahan,” tambahnya.

    Melalui pendekatan yang dekat dengan realitas kehidupan dan perasaan manusia modern, buku ini mengajak pembaca bercermin serta menyadari bahwa keterpurukan bukanlah akhir perjalanan. Dari fase tersebut, seseorang justru dapat mulai mengenali jati diri dan membangun kembali kepercayaan diri yang sempat runtuh.

    Dengan demikian, What’s So Wrong About Your Self Healing layak menjadi referensi bagi pembaca yang ingin memahami self-healing secara lebih utuh bukan sekadar konsep populer, melainkan proses reflektif yang nyata dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

     

    Ardhi Mohamad Buku Buku What’s So Wrong About Your Self Healing
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ridho

    Related Posts

    Menelisik Makna Self-Healing Lewat Buku What’s So Wrong About Your Self Healing

    Februari 22, 2026

    GONG XI HAPPY: Lagu Baru Raih Sorotan di Tengah Gelombang Keceriaan Imlek

    Februari 16, 2026

    Pemprov Kaltim Izinkan Tongkang Melintas di Sungai Mahakam dengan Pengawalan Eskort

    Januari 28, 2026

    Gubernur Khofifah Dorong RSNU Pasuruan Perluas Layanan Kesehatan yang Inklusif

    Januari 26, 2026

    RKAB Belum Keluar, DPRD Kaltim Tegaskan Tambang di Sungai Kandilo Dilarang Beroperasi

    Januari 12, 2026

    DPRD Samarinda Dorong Generasi Muda Aktif Tentukan Arah Pembangunan Kaltim

    Januari 9, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Tragis di Balik Magang: Siswa di Samarinda Meninggal Mendadak Usai Keluhkan Sepatu Sempit

    Ratu ArifanzaMei 1, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Seorang siswa magang bernama Mandala meninggal dunia secara mendadak pada Kamis dini…

    Perempuan Pekerja Samarinda Angkat Suara: Diskriminasi, Upah Murah, hingga Kekerasan Masih Jadi Realita

    Mei 1, 2026

    Hak Angket DPRD Kaltim Masih Menggantung, Tarik Ulur Politik Fraksi Jadi Penghambat

    Mei 1, 2026

    Tambahan Modal Rp500 Miliar Dipertanyakan, Pemkot Samarinda Ingatkan Ancaman Dilusi Saham

    April 30, 2026

    Laba Naik, Dividen Turun: Andi Harun Soroti Kredit Macet dan Transparansi Bankaltimtara

    April 30, 2026
    1 2 3 … 3,084 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.