Insitekaltim, Kukar – Hutan kerap dipandang sebatas hamparan pepohonan yang menghijau. Padahal, keberadaannya memiliki fungsi yang jauh lebih luas bagi kehidupan manusia. Hutan menjadi habitat berbagai satwa, menjaga tata air, membantu menyerap karbon, sekaligus menyediakan sumber penghidupan bagi masyarakat.
Ketika kawasan hutan terbakar atau mengalami penebangan, kerusakan yang terjadi tidak hanya terlihat dari pohon-pohon yang hilang. Ada rangkaian dampak lain yang dapat berlangsung dalam jangka panjang dan menyentuh kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan asap yang menurunkan kualitas udara. Dalam kondisi tertentu, asap dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu.
Dampaknya juga dapat merambat ke aktivitas sosial. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dapat membatasi kegiatan di luar ruangan. Aktivitas sekolah, pekerjaan, perjalanan, hingga kegiatan masyarakat dapat ikut terganggu.
Sementara itu, penebangan pohon secara berlebihan dapat mengurangi tutupan vegetasi yang berfungsi menahan air hujan dan menjaga struktur tanah. Ketika tutupan lahan semakin terbuka, air hujan lebih mudah mengalir di permukaan dan membawa lapisan tanah. Dalam kondisi tertentu, keadaan tersebut dapat meningkatkan risiko erosi, banjir maupun longsor.
Kerusakan hutan juga mengancam kehidupan satwa. Hilangnya pepohonan dan habitat membuat ruang hidup satwa semakin terbatas. Satwa yang kehilangan habitatnya dapat berpindah ke kawasan lain, termasuk mendekati permukiman masyarakat, sehingga berpotensi menimbulkan konflik antara manusia dan satwa.
Dari sisi ekonomi, masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya hutan juga dapat terkena dampaknya. Hasil hutan, lahan pertanian, perkebunan, hingga sumber air menjadi bagian dari ekosistem yang saling berkaitan. Ketika lingkungan mengalami kerusakan, produktivitas dan akses terhadap sumber daya tersebut dapat ikut berubah.
Kerugian akibat kerusakan hutan juga tidak selalu dapat dihitung dalam waktu singkat. Pohon yang ditebang dapat digantikan melalui penanaman kembali, tetapi memulihkan fungsi ekologis hutan membutuhkan waktu jauh lebih panjang.
Karena itu, persoalan kebakaran dan penebangan hutan bukan hanya tentang berapa banyak pohon yang hilang. Persoalannya menyangkut bagaimana masyarakat dapat mempertahankan kualitas lingkungan dan sumber kehidupan untuk jangka panjang.
Upaya menjaga hutan dapat dimulai dari pencegahan kebakaran, pengawasan terhadap aktivitas penebangan, pemulihan lahan yang telah rusak, serta pemanfaatan kawasan secara lebih bertanggung jawab.
Sebab, ketika hutan kehilangan fungsinya, dampaknya pada akhirnya kembali kepada manusia. Udara, air, tanah, kesehatan, aktivitas sosial hingga sumber penghasilan masyarakat semuanya memiliki keterkaitan dengan kondisi lingkungan yang terjaga.

