Insitekaltim, Samarinda – Membangun budaya membaca di tengah masyarakat tidak cukup hanya melalui kegiatan perpustakaan maupun program literasi yang digelar pemerintah. Kebiasaan membaca perlu tumbuh dari lingkungan keluarga, sekolah hingga komunitas agar menjadi bagian dari pola hidup sehari-hari.
Hal tersebut menjadi perhatian Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Samarinda menyusul adanya informasi awal hasil survei Perpustakaan Nasional yang mengindikasikan tingkat kegemaran membaca masyarakat Samarinda masih berada di kelompok tiga terbawah di Kalimantan Timur (Kaltim).
Kepada awak media, Kepala DPK Kota Samarinda, Erham Yusuf, mengungkapkan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Terlebih, Samarinda memiliki komposisi penduduk yang didominasi kelompok usia muda sehingga berpotensi menjadi kekuatan dalam pengembangan budaya literasi.
“Generasi muda seharusnya tidak hanya menjadi sasaran program peningkatan minat baca, tetapi juga mampu menjadi penggerak kegiatan literasi di lingkungan tempat tinggal maupun komunitasnya,”Ungkapnya saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler. Minggu, 8 November 2026.
Menurut Erham, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menyediakan fasilitas membaca, melainkan membangun kesadaran masyarakat agar memiliki kemauan untuk mencari pengetahuan melalui bahan bacaan secara mandiri.
“Harapan kami, masyarakat tidak hanya membuka buku ketika ada agenda perpustakaan atau karena tuntutan tugas sekolah. Membaca perlu menjadi kebiasaan yang tumbuh atas kesadaran sendiri dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari,” Ucapnya.
Erham menyebutkan pihaknya berencana terus memperluas edukasi mengenai pentingnya literasi. Upaya tersebut tidak hanya menekankan kegiatan membaca sebagai sarana memperoleh informasi, tetapi juga sebagai jalan untuk memperkaya wawasan, meningkatkan pemahaman, serta membentuk kemampuan berpikir masyarakat.
“Pembentukan budaya literasi membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Orang tua dapat mengenalkan buku kepada anak sejak usia dini, sekolah memperkuat kebiasaan membaca melalui proses pembelajaran, sementara komunitas dapat menciptakan ruang kegiatan literasi yang lebih dekat dengan masyarakat,” Ujarnya.
Selain itu, Erham juga mendorong agar anak-anak muda diberi kesempatan mengambil peran dalam berbagai aktivitas literasi. Dengan begitu, gerakan membaca tidak hanya bergantung pada kegiatan yang difasilitasi pemerintah, tetapi dapat berkembang melalui inisiatif masyarakat sendiri.
“Pemerintah hanya salah satu bagian dari upaya ini. Peran keluarga, guru, lingkungan pendidikan, dan komunitas sangat menentukan. Jika semuanya memiliki kepedulian yang sama, budaya membaca akan lebih mudah tumbuh dan bertahan,” Jelasnya.
Terkait capaian kegemaran membaca, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim yang bersumber dari survei Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Kota Samarinda pada 2025 mencapai 58,55.
Nilai tersebut berada di atas rata-rata Provinsi Kaltim yang tercatat sebesar 57,86. Dari sembilan kabupaten dan kota yang memiliki data, Samarinda menempati urutan ketiga setelah Bontang dengan nilai 60,47 dan Balikpapan sebesar 58,76.
Meski demikian, Erham menyampaikan bahwa informasi awal mengenai hasil survei terbaru menunjukkan gambaran yang perlu dicermati. Hasil resmi yang memuat nilai serta peringkat masing-masing daerah belum dipublikasikan sehingga belum dapat dipastikan apakah terjadi perubahan capaian dibandingkan tahun sebelumnya.
DPK Samarinda masih menunggu pengumuman resmi Perpustakaan Nasional yang dijadwalkan pada Desember mendatang untuk mengetahui hasil pengukuran terbaru tersebut.
Bagi Erham, informasi awal itu semestinya menjadi bahan evaluasi, bukan sekadar persoalan posisi dalam daftar pemeringkatan.
“Hal yang lebih penting adalah bagaimana mendorong perubahan perilaku masyarakat agar semakin dekat dengan aktivitas membaca,” tuturnya.
Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda dinilai memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat kualitas literasi masyarakatnya. Potensi jumlah penduduk usia produktif dan generasi muda perlu diimbangi dengan peningkatan akses serta kebiasaan memperoleh pengetahuan.
Ia berharap seluruh unsur masyarakat dapat menjadikan persoalan tersebut sebagai momentum untuk memperkuat gerakan literasi di Kota Tepian.
“Capaian survei harus kita jadikan bahan untuk berbenah. Yang ingin kita bangun bukan hanya angka yang lebih baik pada pengukuran berikutnya, tetapi masyarakat yang semakin terbiasa membaca, memiliki wawasan luas, dan mampu memanfaatkan pengetahuan dalam kehidupan,” pungkasnya. (ADV)

