Insitekaltim, Samarinda – Kebutuhan daging domba di Kalimantan Timur yang mencapai sekitar 1.000 hingga 1.250 ekor per minggu membuka peluang ekonomi bagi peternak lokal. Namun, tingginya permintaan tersebut belum sepenuhnya mampu dipenuhi dari produksi daerah, sehingga Kaltim masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, termasuk daging beku dari Jawa hingga domba hidup dari Australia.
Sekretaris DPD Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Kaltim, Adung Karyo Sedio Utomo, mengatakan kebutuhan pasar daging domba di Kaltim saat ini diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 ekor per bulan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang bagi peternak lokal untuk mengembangkan usaha sekaligus memperluas pasar komoditas domba di Kaltim.
“Pangsa pasar daging domba sangat besar untuk kebutuhan konsumsi,” ujar Adung dalam audiensi DPD HPDKI Kaltim bersama Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji di ruang rapat Wagub Kaltim, Senin, 5 Oktober 2026.
Adung menjelaskan, populasi domba yang dibudidayakan anggota HPDKI maupun peternak lainnya saat ini telah mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 ekor. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan populasi sebelumnya yang berada di kisaran 600 ekor.
Pengembangan usaha domba, kata dia, juga tidak hanya berorientasi pada penjualan daging. Rantai usaha dapat dikembangkan mulai dari budidaya, pemotongan, pemasaran hingga pengolahan produk. Selain daging, domba juga dapat menghasilkan produk lain seperti pupuk dari kotoran ternak dan susu.
“Kami melakukan ternak domba mulai dari budidaya, pemotongan, pemasaran hingga pengolahannya. Dan domba tidak hanya hasil daging, tetapi juga pupuk (kotoran) dan susu,” jelasnya.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengatakan peluang tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah mendorong swasembada pangan, termasuk pemenuhan kebutuhan daging.
Ia menyebut kebutuhan daging domba dan kambing di Kaltim masih mengalami kekurangan sekitar 40 hingga 50 persen. Kondisi itu dinilai perlu diantisipasi dengan memperkuat produksi peternak lokal agar ketergantungan terhadap pasokan dari daerah lain dapat dikurangi.
“Kami berharap HPDKI ini mampu melahirkan peternak-peternak domba yang mandiri, sehingga mendukung percepatan swasembada daging Kaltim,” kata Seno.
Seno juga mendorong HPDKI untuk lebih intensif memberikan edukasi kepada peternak, termasuk mengenai budidaya dan peluang pasar. Dengan kebutuhan yang masih tinggi, pengembangan peternakan domba dinilai dapat menjadi salah satu peluang usaha bagi masyarakat sekaligus memperkuat rantai ekonomi peternakan di Kaltim.

