Insitekaltim, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Samarinda masih terus terjadi. Hingga 1 November 2026, tercatat 347 kejadian dengan total luas lahan terbakar mencapai 932,19 hektar.
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda Suwarso mengatakan, jumlah kejadian kebakaran masih fluktuatif. Dalam satu hari, kebakaran bisa hanya terjadi di satu titik, tetapi pada hari lainnya kembali muncul di beberapa lokasi sekaligus.
Sehari sebelum pendataan tersebut, misalnya, petugas harus menangani sekitar tiga titik kebakaran. Salah satu kejadian berada di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan dengan luas area terbakar diperkirakan mencapai 10 hektare.
Penanganan di lokasi itu membutuhkan cairan pemadam khusus karena api berada dekat tumpukan ban. Kondisi lahan yang terjal juga membuat api merembet hingga kawasan Pelita 6.
“Yang berada di area dekat TPA Sambutan itu sampai dengan 10 hektare. Pemadamannya harus menggunakan cairan khusus karena dekat tumpukan ban. Dengan cairan tersebut kemarin kita bisa padamkan segera. Namun, karena areanya cukup terjal, api merembet sampai ke Pelita 6,” kata Suwarso di BPKAD Kota Samarinda, Senin, 2 November 2026..
Operasi pemadaman dilakukan sekitar pukul 21.00 WITA dengan melibatkan tim gabungan dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, relawan, Satpol PP, BPBD Provinsi Kaltim, hingga Bhabinkamtibmas.
Selain di sekitar TPA Sambutan, kebakaran juga terjadi di wilayah Kelurahan Sungai Kapih, meliputi Gang Pipit, Gang Pulang, dan Jalan Padat Karya. Pada malam harinya, titik kebakaran kembali muncul di RT 6 Makroman.
Kondisi tersebut cukup membebani petugas karena penanganan harus dilakukan di beberapa lokasi dalam waktu berdekatan. Meski demikian, tim gabungan tetap dikerahkan untuk memadamkan api.
Selanjutnya, kemunculan titik api masih dipengaruhi kondisi cuaca yang panas serta rumput dan semak belukar yang mengering. Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir belum merata di seluruh wilayah Samarinda.
Berdasarkan pantauan BPBD, sejumlah kawasan perkotaan telah diguyur hujan. Hujan juga sempat turun di Makroman dan Sungai Siring. Namun, beberapa wilayah yang selama ini memiliki frekuensi kebakaran cukup tinggi dan area terdampak luas justru belum menerima hujan deras.
“Untuk daerah-daerah yang selama ini frekuensi kebakarannya cukup lama dan luas, justru belum ada hujan deras. Kalau gerimis ada, tetapi belum mampu membasahi lahan-lahan yang kering tersebut,” ujarnya.
Selain faktor cuaca, Suwarso menyebut aktivitas manusia turut menjadi pemicu kebakaran. Ia menyinggung kebiasaan membakar lahan kaplingan maupun area yang akan digunakan untuk tanaman kebun.
BPBD juga menyoroti adanya potensi kebakaran di sekitar area bukaan batu bara. Namun, penyebab setiap kejadian tetap perlu dilihat berdasarkan kondisi dan hasil pemeriksaan di lapangan.
Terkait dugaan pembakaran lahan, Suwarso menyebut lima orang telah diproses oleh Polresta Samarinda.
Di tengah kondisi lahan yang masih kering, BPBD meminta masyarakat ikut terlibat dalam pencegahan karhutla, salah satunya melalui patroli dan penanganan awal ketika menemukan api kecil.
“Kalau ada kejadian api kecil, sebaiknya dipadamkan terlebih dahulu,” kata Suwarso.
Meski demikian, penanganan awal oleh warga harus tetap memperhatikan keselamatan. Masyarakat diminta segera melaporkan kejadian kepada petugas apabila api mulai membesar atau berpotensi merambat ke permukiman dan kawasan lain.

