Insitekaltim, Samarinda – Sekitar 70 persen kebutuhan sapi di Kalimantan Timur (Kaltim) masih dipenuhi dari luar daerah. Di tengah ketergantungan tersebut, sebanyak 58 ekor sapi disalurkan kepada dua kelompok tani di Jalan Trek Dayung Sukorejo Kelurahan Lempake Kota Samarinda, Rabu, 14 Oktober 2026.
Bantuan melalui program aspirasi anggota DPRD Kaltim itu diberikan kepada Kelompok Tani Jaya Makmur dan Kelompok Tani Bina Mulya Tani. Masing-masing kelompok menerima 29 ekor, terdiri atas 26 sapi betina dan tiga sapi jantan.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Andi Satya Adi Saputra mengatakan, keberhasilan bantuan tidak cukup diukur dari jumlah ternak yang diserahkan. Peternak diharapkan mampu mengembangbiakkan sapi tersebut agar populasi ternak terus bertambah.
“Bukan dari jumlah berapa ternak yang dikasihkan saat ini, keberhasilannya bukan di situ. Tapi keberhasilannya adalah bagaimana ternak yang ada saat ini nanti kita bisa kembang biakkan menjadi ternak yang lebih banyak lagi,” kata Andi.
Namun, keberlanjutan bantuan serupa menghadapi tantangan anggaran. Andi menyebutkan, program tersebut diperkirakan tidak berlanjut pada 2027 karena adanya proyeksi penurunan kemampuan fiskal daerah. Ia berharap bantuan dapat kembali dilaksanakan pada 2028 jika kondisi anggaran memungkinkan.
“Di tahun 2027 kan kita sudah mendapatkan prediksi forecast anggaran kita akan berkurang. Tentu akan difokuskan pada kegiatan yang esensial, standar pelayanan minimal masyarakat itu terutama nanti kegiatan-kegiatan yang betul-betul dirasakan perlu oleh pemerintah. Nah, kita berharap 2028 pada saat nanti fiskal sudah lebih longgar, ya kita bisa lakukan lagi,” ujarnya.
Kepala Bidang Perbibitan dan Budidaya Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim Ihyan Nizam mengatakan, sapi bantuan tersebut didatangkan dari Bali.
Sebelum ditetapkan sebagai penerima, kelompok tani terlebih dahulu menjalani verifikasi untuk memastikan keberadaan dan kelayakannya.
“Kelompok ini sebelum dipilih itu ada namanya verifikasi. Jadi verifikasi kelompok itu, nama-nama yang diusulkan kita lihat ke lokasi, betul kah ada kelompoknya. Jadi ada beberapa kelompok memang yang masuk, tapi yang berdasarkan tim itu yang lolos verifikasi yang memang layak,” kata Ihyan.
Besarnya ketergantungan pasokan dari luar daerah membuat pengembangan peternakan lokal menjadi salah satu tantangan yang perlu dijawab.
Bantuan bibit sapi berpotensi mendukung penambahan populasi, tetapi hasilnya bergantung pada keberhasilan pemeliharaan, perkembangbiakan, dan keberlanjutan dukungan kepada peternak.
Ketua Kelompok Tani Bina Mulya Tani Saptono, mengatakan kelompoknya berkomitmen merawat dan mengembangkan sapi yang diterima agar jumlah ternak bertambah.
“Alhamdulillah ini namanya rezeki. Jadi insyaallah kami selaku penerima akan mempertahankan ini dan memperbanyak, mengembangkan ini supaya jadi lebih bagus, agar kelompok kami bisa dipercaya di tahun-tahun berikutnya,” ujar Saptono.

