Insitekaltim, Samarinda – Wali Kota Samarinda Andi Harun menyoroti persoalan ketimpangan ekonomi yang masih terjadi di tengah melimpahnya kekayaan sumber daya alam di Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur (Kaltim).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan dalam pengelolaan dan distribusi kekayaan yang belum berjalan secara adil.
“Semua orang tahu Indonesia ini negeri yang sangat kaya. Kalimantan juga sangat kaya, terutama dari sumber daya seperti batu bara. Tapi kalau masyarakatnya masih banyak yang miskin, berarti ada yang salah dalam pengelolaannya,” ujarnya, Jumat 3 April 2026 malam.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti sebuah keluarga yang memiliki kekayaan cukup, namun tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar anggotanya.
“Kalau dalam satu rumah tangga penghasilannya besar tapi anaknya tidak sekolah, tidak bisa hidup layak, berarti ada yang salah. Entah pengelolaannya atau digunakan untuk hal yang tidak tepat,” jelasnya.
Andi Harun menilai persoalan utama terletak pada distribusi kekayaan yang belum merata, sehingga manfaatnya belum dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Ia juga menyinggung kondisi ketimpangan ekonomi yang terjadi di mana sebagian kecil kelompok menguasai sebagian besar kekayaan.
“Kalau kita lihat ada sebagian kecil orang yang menguasai kekayaan sangat besar, sementara sebagian besar masyarakat belum merasakan kesejahteraan yang layak,” katanya.
Kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan terus berlangsung tanpa adanya upaya perbaikan yang serius. Ia menegaskan kekayaan daerah seharusnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat, bukan hanya dinikmati oleh segelintir pihak.
“Kekayaan itu harus kembali kepada rakyat. Harus ada manfaat yang nyata bagi masyarakat luas,” tegasnya.
Lebih lanjut ia mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya yang berorientasi pada keadilan sosial, sehingga tidak menimbulkan kesenjangan yang semakin lebar.
Perubahan hanya dapat terwujud jika ada kesadaran bersama untuk memperbaiki sistem yang ada.
“Kalau tidak dikelola dengan adil, maka ketimpangan akan terus terjadi. Padahal potensi kita sangat besar,” pungkasnya.

