Insitekaltim, Samarinda — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda turut memantau kualitas air bersih dan air minum di tengah gangguan distribusi air akibat intrusi air laut yang masuk ke Sungai Mahakam.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinkes, karena ketersediaan dan kualitas air berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat. Pemantauan dilakukan melalui tim kesehatan lingkungan atau sanitarian yang berada di 26 Puskesmas di Kota Samarinda.
Kepala Dinkes Kota Samarinda Ismed Kusasih mengatakan, pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap kualitas udara, tetapi juga terhadap air bersih dan air minum yang digunakan masyarakat.
“Di 26 Puskesmas tadi selain melakukan pemantauan terhadap kualitas udara, teman-teman sanitarian juga melakukan pemeriksaan kualitas air bersih,” kata Ismed saat ditemui di Kantor Dinkes Samarinda, Kamis 17 September 2026.
Menurutnya, hasil pemeriksaan kualitas air tersebut nantinya akan disampaikan kepada Dinkes Samarinda untuk menjadi bahan masukan kepada Perumdam Tirta Kencana atau PDAM terkait kondisi distribusi air kepada masyarakat.
Gangguan distribusi air terjadi karena adanya intrusi air laut ke Sungai Mahakam. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu diantisipasi karena masyarakat tetap membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Untuk sementara, Dinkes mengimbau agar air PDAM yang didistribusikan digunakan terutama untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
“Yang jelas sekarang air PDAM yang didistribusikan ini kita harapkan paling tidak hanya untuk MCK,” ujarnya.
Sementara untuk penggunaan air sebagai air minum, terdapat sejumlah persyaratan dan tata cara yang perlu diperhatikan masyarakat. Dinkes akan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai pengolahan air yang aman untuk dikonsumsi.
Di sisi lain, gangguan ketersediaan air bersih juga membuat Dinkes memantau kemungkinan peningkatan penyakit yang berkaitan dengan kondisi sanitasi dan kualitas air, termasuk diare.
Ismed mengatakan kasus diare memang terpantau mengalami peningkatan, tetapi sejauh ini belum menunjukkan kenaikan yang signifikan. Dinkes masih menghimpun data dari fasilitas kesehatan untuk melihat perkembangan kasus secara lebih menyeluruh.
“Yang jelas mungkin ada peningkatan tapi masih belum signifikan,” katanya.
Pemantauan dilakukan secara berkala melalui 26 Puskesmas. Data tersebut nantinya menjadi bagian dari evaluasi Dinkes dalam mengantisipasi dampak gangguan air bersih terhadap kesehatan masyarakat.
Dinkes juga mengimbau masyarakat memperhatikan pengolahan air sebelum digunakan sebagai air minum. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya gangguan kesehatan selama distribusi air bersih masih terdampak kondisi Sungai Mahakam.
Dengan pemantauan kualitas air yang dilakukan di tingkat Puskesmas, Dinkes berharap kondisi air yang diterima masyarakat dapat terus diawasi dan perkembangan penyakit seperti diare dapat segera diketahui.

