Insitekaltim, Samarinda – Hujan mulai kembali turun di sejumlah wilayah Kaltim setelah kemarau panjang. Namun, hujan dengan intensitas cukup tinggi belum terjadi merata di seluruh wilayah Kaltim.
Prakirawan BMKG Samarinda Gilang Arya Putra mengatakan, dalam beberapa hari terakhir hujan dengan curah cukup tinggi terpantau terutama di wilayah Kaltim bagian utara dan barat.
“Wilayah yang sudah mengalami hujan yang cukup banyak itu di wilayah Kaltim bagian utara seperti di Berau dan wilayah Kaltim bagian barat seperti di Mahulu dan Kutim bagian barat,” kata Gilang, Jumat, 25 September 2026.
Kondisi tersebut belum bisa menjadi penanda bahwa Kaltim telah sepenuhnya memasuki musim hujan. Data BMKG untuk Dasarian III September masih menunjukkan sebagian besar wilayah Kaltim diprakirakan mendapat curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter. Curah hujan kategori menengah 50–75 milimeter diprakirakan terjadi di Berau bagian utara dan Mahakam Ulu bagian barat.
Gilang mengatakan potensi hujan masih ada dalam beberapa hari ke depan. Hanya saja, pola hujan yang lebih sering diperkirakan baru menguat pada pertengahan Oktober hingga awal November.
“Secara periode normalnya sudah masuk musim hujan di bulan September sampai awal Oktober. Tapi karena frekuensi curah hujan ada di pertengahan Oktober hingga awal November, kami memprediksi agak lebih mundur,” ujarnya.
Artinya, hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah belum serta-merta mengakhiri kondisi kering yang sebelumnya terjadi. BMKG dalam prakiraan 25 September–1 Oktober juga masih melihat kondisi kering mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, sementara curah hujan di banyak wilayah diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah.
Di Kaltim, kondisi kering tersebut sebelumnya telah berdampak pada sektor pertanian. Hingga pertengahan September, sekitar 2.620 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan dan 333 hektare di antaranya mengalami puso.
Karena itu, datangnya hujan di sejumlah wilayah menjadi perkembangan penting, tetapi belum menghapus persoalan kekeringan secara keseluruhan. Sebaran dan frekuensi hujan masih menjadi faktor penentu pemulihan kondisi lahan dan ketersediaan air.
BMKG masih melakukan kajian terhadap perkembangan musim hujan di Kaltim. Gilang meminta masyarakat menunggu rilis resmi terkait prakiraan musim hujan sebelum menarik kesimpulan mengenai perubahan musim.
Untuk saat ini, hujan lebih banyak muncul di wilayah utara dan barat, sementara sebagian besar wilayah Kaltim masih menghadapi pola curah hujan rendah.

