Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Rakor Diskominfo se-Kaltim 2026: Faisal Dorong Integrasi Data dan Sinergi Digital Antar Daerah

    April 22, 2026

    Andi Harun Bongkar Pos Anggaran Rp98 Miliar, Dorong Efisiensi dan Integrasi Sistem Pemerintahan

    April 22, 2026

    Rp1,9 Miliar Digelontorkan, Pemkot Pastikan SMPN 2 Segera Normal Kembali

    April 22, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Tokoh
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Gen Z, Generasi Paling Konsumtif?
    Lifestyle

    Gen Z, Generasi Paling Konsumtif?

    LarasBy LarasJanuari 13, 202503 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Founder Finansialku.com Melvin Mumpuni (kiri)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Generasi Z atau Gen Z dinobatkan sebagai generasi paling konsumtif. Generasi yang lahir pada 1997-2012 ini, tidak menyandang gelar tersebut tanpa alasan.

    Menurut survei Katadata Insight Center (KIC) dan Zigi pada 2022, Gen Z dinilai cukup konsumtif. Dalam survei tersebut, 72,9% pengeluaran Gen Z dialokasikan untuk kebutuhan komunikasi, 34,9% untuk belanja bahan makanan, dan 26,4% untuk fesyen dan aksesoris.

    Budaya menabung seolah sirna. Tren YOLO atau You Only Live Once (hidup hanya satu kali) menjadi panutan generasi ini. Alhasil, “kalau bisa menikmati sekarang, kenapa harus nanti” pun tercipta sebagai mindset atau pola pikir Gen Z.

    Dalam Podcast Suara Berkelas Episode 14 berjudul “Harusnya Mindset Keuangan Para Sandwich Generation Tuh Gini!”. Founder Finansialku.com sekaligus ahli bidang finansial Melvin Mumpuni menyebutkan beberapa faktor penyebabnya.

    Pertama, hadirnya berbagai metode pembayaran yang memudahkan transaksi real time tanpa perlu capek-capek merogoh dompet atau mencari uang pas.

    Mulai dari e-wallet, shopepay, paylater, debit, Qris, Dana, debit, Gopay, transfer dan masih banyak lagi. Kemudahan transaksi dimaksudkan untuk mempermudah pembayaran, tetapi membawa jalan untuk mudah menghambur-hamburkan uang sekaligus.

    “Dulu hanya cash atau tarik tunai, atau seenggaknya debit. Sudah tiga opsi saja, sekarang? Sekarang tidak perlu bawa dompet, cuman bawa Hp saja sudah,” ulas Melvin.

    Kedua, kebutuhan yang di-create (dibuat-buat). Dahulu, menurut Melvin, kebutuhan hanya sebatas sandang, papan, pangan. Sekarang ada istilah kebutuhan di-create. Ingin sebuah hiburan berupa nonton film, mendengarkan musik, mantengin idola lewat virtual, diperlukan tombol subscribe dan berbayar.

    Lalu, ada kebutuhan ngopi. Bukan masalah apabila kopi adalah hidup. Hanya saja, Melvin menguraikan, anak muda tidak doyan dengan kopi sachet warungan atau kopi hitam yang sering dikonsumsi generasi sebelumnya, melainkan kopi gula aren ala-ala cafe.

    “Standar sekarang itu berbeda. Standar untuk ada botol minum, standar makan siang, standar sepatu untuk lari, sepatu untuk jalan, semua ada standarnya,” jelasnya menyinggung terlalu banyaknya standar bagi Gen Z dalam keseharian yang bersifat tidak perlu.

    Ada sebuah film dokumenter yang mengambil latar perang dunia II di Amerika Serikat. Melvin menceritakan ketika ada seorang tentara Amerika perang di luar Amerika, ia kehabisan bahan pangan, salah satunya daging.

    Kebutuhan dalam negeri akan daging saat itu menipis. Untuk mengirim stok daging kepada tentara tersebut, pemerintah mengampanyekan gerakan makan jeroan. Jeroan sapi jauh lebih bagus ketimbang daging. Itu contoh kebutuhan yang di-create demi tujuan.

    “Kebutuhan itu di-create. Kamu kalau termakan jargon-jargon yang di-create itu, maka ya bakal ngikut tren. Pertanyaan siapa yang create itu? Tadinya kita tidak ada kebutuhan itu. Yang dapat untung adalah dia yang meng-create,” ungkapnya.

    Melvin menyarankan bahwa penghapusan standar atas sesuatu yang tidak ada urgensinya menjadi solusi. Tidak mudah termakan rayuan kebutuhan yang tidak perlu, juga keharusan. Menekan gaya hidup demi tujuan jangka panjang harus mulai ditanamkan dalam diri.

    Gen Z konsumtif Melvin Mumpuni
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Laras

    Related Posts

    Camat Samarinda Ulu Dukung Perda TBC, Soroti Pentingnya Jaminan Sosial bagi Penderita

    April 14, 2026

    Kasus TBC Samarinda Tembus 4.000, Dinkes Genjot Deteksi Dini di Tengah Keterbatasan Anggaran

    April 13, 2026

    Target Eliminasi 2030, Penanganan TBC dan HIV/AIDS di Samarinda Perlu Kolaborasi

    April 13, 2026

    Kasus TBC Masih Tinggi, Pemkot Samarinda Siapkan Perda Penanggulangan

    April 13, 2026

    Dinkes Samarinda Sebut Sosialisasi Provinsi Sekadar Informasi, Tegaskan Sikap Pemkot Jelas

    April 12, 2026

    TWAP Samarinda Tanggapi Sudarno, Tegaskan Pernyataan Andi Harun Soal JKN Bukan Hoaks

    April 11, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Rakor Diskominfo se-Kaltim 2026: Faisal Dorong Integrasi Data dan Sinergi Digital Antar Daerah

    Ratu ArifanzaApril 22, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kalimantan Timur (Kaltim) Muhammad Faisal, menegaskan…

    Andi Harun Bongkar Pos Anggaran Rp98 Miliar, Dorong Efisiensi dan Integrasi Sistem Pemerintahan

    April 22, 2026

    Rp1,9 Miliar Digelontorkan, Pemkot Pastikan SMPN 2 Segera Normal Kembali

    April 22, 2026

    Kecelakaan Berulang, Dishub Samarinda Dorong Pemindahan Pergudangan ke Palaran

    April 22, 2026

    DPRD Samarinda Dorong Kantong Parkir dan Sistem Elektronik untuk Atasi Jukir Liar

    April 22, 2026
    1 2 3 … 3,068 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.