Insitekaltim, Samarinda – Warga Kota Samarinda masih harus bersiap menghadapi pemadaman listrik bergilir dalam beberapa pekan ke depan. PLN UP3 Samarinda mengakui pasokan listrik masih terbatas akibat gangguan pada empat pembangkit, sementara penambahan kapasitas daya baru ditargetkan beroperasi secara bertahap hingga Desember 2026.
Manajer PLN UP3 Samarinda Adrian Sitompul, menyebut empat pembangkit yang mengalami gangguan yakni Pembangkit Listrik Senipah, Indo Eka, Asam-asam, dan GBK. Khusus di Senipah, terdapat dua gangguan yang turut memengaruhi pasokan listrik.
“Memang penyebab pemadaman ini terjadi akibat gangguan. Yang pertama kita ada gangguan dua di Pembangkit Listrik Senipah. Kemudian ada gangguan di Indo Eka, Asam-asam, dan GBK,” kata Adrian saat menemui massa aksi, Kamis, 29 Oktober 2026.
Meski telah menyebutkan empat lokasi pembangkit tersebut, PLN belum memerinci jenis kerusakan dan penyebab teknis gangguan pada masing-masing pembangkit. Adrian hanya menyampaikan bahwa koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan untuk mempercepat pemulihan.
Di tengah gangguan tersebut, PLN menyiapkan penambahan kapasitas pembangkit melalui dua tahap dengan total sekitar 278 megawatt (MW). Tahap pertama ditargetkan menambah 158 MW, sedangkan tahap kedua sebesar 120 MW.
Sekitar 45 MW telah beroperasi di Batu Licin dan Trisakti. Adapun tahap pertama diharapkan beroperasi pada November 2026, disusul tahap kedua pada Desember 2026.
“Kita harapkan tahap pertama bisa beroperasi di November ini. Memang sudah beroperasi di Batu Licin dan di Trisakti dengan total sekitar 45 MW. Kemudian untuk tahap dua kita harapkan bisa beroperasi di Desember,” ujarnya.
Namun, rencana penambahan daya tersebut belum berarti pemadaman akan langsung berakhir. Adrian justru mengakui keterbatasan pasokan masih berpotensi membuat pemadaman berlangsung selama beberapa pekan ke depan.
“Dengan kondisi saat ini, keterbatasan kita, kemungkinan padam dalam beberapa minggu ke depan masih akan terjadi. Karena itu, kita akan tetap melakukan percepatan dan berkoordinasi,” jelasnya.
Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian bagi masyarakat yang telah menghadapi pemadaman bergilir selama sekitar empat bulan. Gangguan listrik tidak hanya menghambat aktivitas rumah tangga, tetapi juga berdampak pada kegiatan pendidikan, tempat ibadah, dan pelaku usaha kecil.
Adrian mengakui dampak tersebut dirasakan berbagai kelompok masyarakat, termasuk pengusaha kafe yang tidak memiliki generator set (genset).
“Kalau padam seperti ini terus, saya yakin teman-teman pasti merasa tidak enak, terganggu. Ibu rumah tangga juga terganggu, pendidikan juga terganggu. Bahkan pengusaha kecil yang buka kafe tidak punya genset. Masjid dan tempat ibadah juga,” tuturnya.
Selain persoalan pasokan, tuntutan kompensasi bagi pelanggan terdampak juga belum mendapat kepastian. PLN menyatakan akan mengevaluasi ketentuan yang berlaku dan meneruskan persoalan tersebut kepada unit di atasnya.
“Jika memang ada kompensasi diberikan, maka akan kami berikan. Kami patuh pada regulasi yang ada,” kata Adrian.
Persoalan pasokan listrik sebelumnya telah dibahas bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) pada 7 Oktober 2026 di Balikpapan. PLN juga menggelar pertemuan dengan Aliansi Cipayung Plus pada 14 Oktober 2026.
Hingga kini, PLN belum memaparkan secara terperinci akar gangguan pada empat pembangkit maupun kepastian kapan pasokan listrik di Samarinda kembali stabil.

