Insitekaltim, Samarinda – El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal 2027 berpotensi memperpanjang kekeringan di Kalimantan Timur (Kaltim), menghambat musim tanam, serta mengganggu pasokan dan harga pangan.
Ancaman ini perlu diantisipasi karena dampak cuaca kering tidak hanya menyangkut ketersediaan air, tetapi juga produksi pertanian dan pendapatan masyarakat.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan fenomena El Nino yang berkembang kuat berpeluang berlanjut hingga Februari 2027. Jika kondisi tersebut bertahan, sejumlah wilayah berisiko menghadapi cuaca panas dan curah hujan yang rendah lebih lama.
Di Kaltim, tekanan musim kemarau terlihat dari rendahnya curah hujan dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini membuat kesiapan menghadapi keterbatasan air, perlindungan lahan pertanian, dan pengendalian kebakaran menjadi semakin penting.
Prakirawan Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Bai’at Alhadid, sebelumnya menjelaskan, musim hujan di sebagian besar wilayah Kaltim diperkirakan baru dimulai pada pertengahan November 2026. Sejumlah wilayah diprakirakan memasuki musim hujan lebih awal, sedangkan Paser diperkirakan menyusul pada akhir November.
Meski hujan mulai turun, curah hujan pada awal musim penghujan diperkirakan masih berada di bawah normal. Puncak musim hujan di sebagian besar Kaltim diprakirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Januari 2027.
Artinya, hujan yang mulai datang belum tentu langsung mengakhiri tekanan akibat kekeringan. Pemerintah daerah tetap perlu mengantisipasi keterbatasan air dan kebakaran selama masa peralihan musim.
Musim Tanam dan Harga Pangan Terancam
Dampak El Nino juga berpotensi merembet ke sektor pertanian. Perubahan pola hujan dapat menggeser jadwal tanam musim hujan 2026/2027. Jika penanaman mundur, jadwal panen berisiko ikut bergeser dan memengaruhi ketersediaan hasil pertanian.
Risiko tersebut dapat menekan pasokan pangan, terutama beras. Ketika produksi menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga pangan berpotensi mengalami kenaikan.
Kondisi ini perlu diantisipasi melalui pemantauan kebutuhan air lahan pertanian, dukungan bagi petani di wilayah rawan kekeringan, serta kesiapan pasokan dari daerah lain apabila produksi lokal terganggu.
Langkah pengendalian harga juga perlu disiapkan sejak dini. Pemerintah daerah perlu memantau stok dan distribusi komoditas penting agar gangguan produksi tidak langsung membebani masyarakat melalui kenaikan harga.
Karhutla dan Produktivitas Masyarakat
Kekeringan berkepanjangan turut meningkatkan risiko karhutla. Kebakaran tidak hanya mengancam kawasan hutan dan habitat satwa, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat akibat asap dan memburuknya kualitas udara.
Suhu tinggi juga berpotensi menurunkan produktivitas pekerja, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Tekanan fisik akibat panas dapat membuat pekerja lebih cepat lelah, membutuhkan lebih banyak waktu istirahat, dan mengalami gangguan konsentrasi.
Dampaknya dapat dirasakan petani, pekerja lapangan, serta masyarakat yang menggantungkan pendapatan pada aktivitas luar ruangan. Karena itu, mitigasi perlu mencakup pencegahan karhutla, perlindungan kesehatan masyarakat, dan penyesuaian aktivitas kerja saat cuaca panas ekstrem.
Dampak Bisa Berlanjut Setelah Hujan Turun
Persoalan akibat El Nino tidak selalu selesai ketika hujan kembali turun. Petani yang kehilangan hasil panen atau mengalami penurunan pendapatan masih membutuhkan waktu untuk memulihkan modal dan memulai musim tanam berikutnya.
Jika tidak diantisipasi, dampak kekeringan dapat berlanjut menjadi persoalan ekonomi rumah tangga. Kenaikan biaya produksi, tertundanya panen, dan gangguan pasokan pangan berpotensi memperberat beban masyarakat berpenghasilan rendah.
Dengan musim hujan yang diprakirakan mundur dan potensi El Nino bertahan hingga awal 2027, Kaltim membutuhkan langkah antisipasi yang terukur berdasarkan kondisi masing-masing wilayah. Kesiapan sumber air, pencegahan karhutla, perlindungan petani, serta pengawasan pasokan dan harga pangan perlu berjalan beriringan agar dampak kekeringan tidak meluas hingga tahun depan.

