Insitekaltim, Samarinda – Ketergantungan Kalimantan Timur (Kaltim) terhadap sektor pertambangan dinilai menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi daerah terutama saat terjadi fluktuasi harga komoditas global.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim Bayu Adi Hardianto mengungkapkan, struktur ekonomi Kaltim saat ini masih sangat bergantung pada sektor sumber daya alam seperti batu bara dan kelapa sawit.
Menurutnya kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi daerah tidak stabil dan sangat bergantung pada kondisi pasar global.
“Kalau harga komoditas naik ekonomi kita ikut naik. Tapi saat harga turun dampaknya juga langsung terasa ke daerah,” ujarnya, Selasa 31 Maret 2026.
Ia menilai ketergantungan tersebut perlu segera diimbangi dengan penguatan sektor alternatif yang lebih berkelanjutan, salah satunya melalui pengembangan pariwisata dan UMKM berbasis potensi lokal.
“Pariwisata ini sebenarnya punya potensi besar. Modalnya tidak terlalu besar, karena kita sudah punya kekayaan alam dan budaya,” jelasnya.
Keberadaan Kampung Tenun Samarinda dinilai menjadi salah satu contoh konkret yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis budaya, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Selain itu, momentum hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) juga disebut sebagai peluang besar untuk menarik arus wisatawan ke Kaltim, khususnya ke Samarinda.
“Wisatawan yang datang ke IKN tidak harus langsung ke sana. Mereka bisa singgah dulu di Samarinda, dan ini peluang ekonomi yang harus ditangkap,” katanya.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam pengembangan sektor tersebut seperti keterbatasan akses permodalan, pemasaran produk, serta rendahnya keterlibatan generasi muda dalam usaha kerajinan lokal.
Sebagai solusi BI bersama pemangku kepentingan menghadirkan program BIMA ETAM (Business Matching Pembiayaan dan Edukasi Literasi Keuangan UMKM).
Program ini memberikan berbagai fasilitas bagi pelaku UMKM, mulai dari konsultasi pembiayaan, pengecekan riwayat kredit, hingga pelatihan pencatatan keuangan digital melalui aplikasi Si Apik.
“Melalui BIMA ETAM, UMKM bisa mendapatkan solusi terpadu untuk mengembangkan usahanya, termasuk akses pembiayaan yang lebih mudah,” jelasnya.
Ia menyebut program tersebut telah menjangkau ribuan pelaku UMKM dan berhasil menyalurkan pembiayaan produktif dengan nilai miliaran rupiah.
Ke depan BI berharap sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha dapat terus diperkuat ag bgar sektor pariwisata dan UMKM mampu menjadi tulang punggung baru ekonomi daerah.
“Ini bukan hanya alternatif, tapi bisa menjadi masa depan ekonomi Kaltim yang lebih stabil dan berkelanjutan,” pungkasnya.

