Insitekaltim, Samarinda – Aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda membutuhkan dukungan fasilitas yang memadai, termasuk pasokan listrik untuk menjaga kualitas barang dagangan.
Namun, meski bangunan pasar telah teraliri listrik, kebutuhan sambungan individual bagi pedagang masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, terutama bagi pedagang zona basah yang membutuhkan freezer untuk menyimpan daging.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan daya listrik, tetapi juga menyangkut mekanisme penyaluran listrik ke setiap lapak agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Karena itu, Pemkot masih mengkaji sejumlah alternatif sebelum menentukan sistem yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan pedagang.
“Dari hasil komunikasi, kami mendapat penjelasan bahwa pengelolaan bisa dilakukan sendiri oleh Pemkot atau menggunakan fasilitas dari PLN. Tinggal menentukan pilihan yang paling tepat,” Ungkap Nurrahmani melalui sambungan sekuler. Jumat, 23 Oktober 2026.
Lebih lanjut, Nurrahmani menjelaskan, saat ini pasokan listrik di Pasar Pagi baru dimanfaatkan untuk kebutuhan terbatas di dalam bangunan.
Sementara itu, sambungan listrik secara individual ke masing-masing lapak pedagang belum tersedia. Kondisi tersebut menjadi kendala bagi pedagang yang membutuhkan peralatan elektronik berdaya besar untuk menunjang aktivitas perdagangan sehari-hari.
Bagi pedagang di zona basah, misalnya, freezer menjadi salah satu fasilitas penting untuk menjaga kualitas daging selama penyimpanan sebelum dijual kepada konsumen. Menurut Nurrahmani, situasi ini berbeda dengan Pasar Pagi lama yang telah memiliki sambungan listrik pada masing-masing kios.
“Situasi ini berbeda dengan Pasar Pagi lama, ketika masing-masing kios telah memiliki sambungan listrik sendiri,” Jelas Nurrahmani.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdag Samarinda telah berkoordinasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) guna membahas kemungkinan penerapan dua skema.
Pertama, Pemkot memanfaatkan kapasitas listrik dan fasilitas yang sudah tersedia melalui mekanisme pengelolaan yang sesuai aturan. Kedua, menggunakan sambungan terpisah dari PLN dengan pembangunan trafo tambahan.
Opsi pembangunan trafo baru diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp2,7 miliar. Nurrahmani menyebut besaran biaya tersebut berkaitan dengan standar peralatan dan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan. Selain itu, pengadaan peralatan di pihak PLN harus mengikuti mekanisme yang berlaku, termasuk proses lelang.
“Penyediaan trafo tambahan melalui PLN menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik pedagang. Namun, kebutuhan anggaran sekitar Rp2,7 miliar membuat Pemkot turut mempertimbangkan kemungkinan memaksimalkan fasilitas yang telah tersedia,” Ucapnya.
Menurut Nurrahmani, pertimbangan anggaran menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan kebijakan. Pemkot perlu memastikan bahwa pilihan yang diambil mampu memenuhi kebutuhan listrik pedagang tanpa mengabaikan efisiensi biaya dan standar keselamatan instalasi kelistrikan.
“Biaya tersebut mengikuti standar peralatan beserta spesifikasi teknis yang dipersyaratkan. Ada ketentuan yang harus dipenuhi dalam penyediaannya,” katanya.
Sebagai bagian dari proses kajian, Disdag juga mempelajari pengalaman pengelolaan listrik di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda. Referensi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai mekanisme distribusi dan pengelolaan listrik yang memungkinkan untuk diterapkan di Pasar Pagi.
Meski demikian, Nurrahmani menegaskan bahwa setiap opsi tetap harus disesuaikan dengan kondisi teknis, kebutuhan pedagang, dan ketentuan hukum yang berlaku.
Setelah kajian teknis, perhitungan biaya, serta referensi pengelolaan terkumpul, Disdag Samarinda berencana membawa persoalan tersebut kepada Bagian Kerja Sama Pemkot Samarinda untuk pembahasan lebih lanjut.
Dengan belum ditetapkannya pilihan akhir, penyelesaian persoalan listrik Pasar Pagi masih bergantung pada hasil kajian lintas pihak.
Pemkot Samarinda diharapkan dapat segera menemukan skema yang tepat agar pedagang memperoleh akses listrik yang memadai, aktivitas perdagangan berjalan lebih optimal, dan kebutuhan penyimpanan bahan pangan tetap dapat terpenuhi. (ADV)

