Insitekaltim, Samarinda – Kondisi sarana pendidikan yang belum merata serta kekurangan tenaga pendidik di bidang tertentu masih menjadi persoalan utama dunia pendidikan di Kalimantan Timur (Kaltim). Permasalahan ini dinilai berdampak langsung pada kualitas proses belajar mengajar di sekolah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kaltim Armin menegaskan, komitmennya untuk membenahi kondisi tersebut dengan menargetkan tidak ada lagi sekolah dalam kondisi buruk pada 2027
Menurutnya, kenyamanan lingkungan sekolah menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan dalam menunjang kualitas pembelajaran.
“Kenyamanan sekolah itu nomor satu. Bagaimana anak-anak bisa belajar dengan baik kalau kondisi sekolahnya tidak nyaman,” ujarnya, Selasa 14 April 2026.
Ia menjelaskan, kewenangan Disdikbud Kaltim mencakup jenjang SMA, SMK, dan SLB, sehingga pihaknya bertanggung jawab memastikan seluruh sekolah berada dalam kondisi layak.
“Kami pastikan ke depan tidak ada lagi sekolah yang jelek. Kalau masih ada, silakan laporkan ke kami untuk segera ditindaklanjuti,” tegasnya.
Selain persoalan infrastruktur, tantangan kekurangan tenaga pendidik, khususnya pada bidang keahlian tertentu. Meski secara jumlah total guru di Kaltim mencapai sekitar 11 ribu orang, distribusi dan kesesuaian bidang masih menjadi kendala.
“Secara jumlah cukup tapi ada kekosongan di bidang tertentu, terutama guru produktif di SMK,” ungkapnya.
Ia mencontohkan kondisi di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang masih kekurangan puluhan guru produktif.
“Di Kukar saja ada kekurangan sekitar 32 guru produktif. Ini jadi tantangan karena tidak mudah mencari tenaga di bidang tersebut,” jelasnya.
Menurut Armin, salah satu penyebab utama adalah rendahnya minat tenaga profesional untuk beralih menjadi tenaga pengajar, terutama pada bidang spesifik seperti pelayaran.
“Guru pelayaran misalnya sangat sulit dicari karena mereka lebih memilih bekerja di lapangan dibanding menjadi pengajar,” katanya.
Lebih lanjut, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah tenaga pendidik, tetapi juga kualitas yang harus terus ditingkatkan.
Untuk itu, ia berharap perguruan tinggi, khususnya lembaga pencetak guru, dapat menyesuaikan kurikulum dan menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
“Kami berharap universitas bisa menyiapkan guru-guru berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan Kaltim,” ujarnya.
Upaya tersebut dinilai penting seiring target Kaltim untuk meningkatkan standar pendidikan, tidak hanya memenuhi Standar Nasional Pendidikan, tetapi juga mampu bersaing secara global melalui pengembangan sekolah unggulan dan sistem pembelajaran bilingual.
“Kalau kita ingin punya daya saing tinggi, kualitas guru harus ikut ditingkatkan,” pungkasnya.

