Artikel ini telah dilihat : 970 kali.
oleh

Direktur Walhi dan Pokja 30 Protes, 3 Aktivis Dijemput Paksa Karena Covid-19

Reporter : Samuel – Editor : Redaksi

Insitekaltim, Samarinda – Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kaltim Yohana Tiko menyayangkan aksi petugas Dinas Kesehatan (Dinkes), BPBD dan Satpol PP Samarinda yang melakukan jemput paksa tiga aktivis yang diduga terpapar positif Covid-19.

Dia kecewa lantaran petugas tidak bisa menunjukkan bukti bahwa ketiga aktivis itu positif Covid-19. Perdebatan sempat terjadi antara para aktivis dengan petugas yang menjemput.

“Kita minta dulu hak kita. Kita lihat dulu hasil labnya. Mana hasil labnya?!,” ucap Direktur Walhi Kaltim Yohana Tiko dalam video yang beredar Jumat petang (31/7/2020).

Yohana menyebut bahwa pihak Dinkes dan Satpol yang menjemput, tidak bisa menunjukkan bukti para aktivis yang diindikasi Covid-19, benar-benar telah terverifikasi Covid-19. Saat penjemputan tiga aktivis itu, petugas Dinkes juga didampingi sejumlah polisi.

Protes juga dilontarkan Pokja 30 yang berkantor di Jalan Gitar Kota Samarinda.
Kordinator Pokja 30 Buyung Marajo membenarkan bahwa pihak Dinkes dan Satpol PP datang untuk menjemput paksa para aktivis.

“Iya benar, kawan-kawan dijemput. Tapi petugas tidak dapat menunjukkan surat jika ketiganya benar-benar positif,” protes Buyung Marajo via telepon.

Kekecewaan juga disampaikan Fathul Huda, Advokat LBH Samarinda yang ikut dijemput. Fathul mengatakan jikapun para aktivis benar terkonfirmasi positif Covid-19, maka tidak perlu ada penjemputan dari pihak Dinkes dan rumah sakit. Apalagi, jika tidak ada gejala sedang atau keluhan serius. Pasien yang positif akan termasuk dalam golongan OTG, dan bisa melakukan karantina mandiri.

“Biarkan di kantor kalau memang positif karena OTG, biar isolasi mandiri ga usah di rumah sakit, nanti swab mandiri. Kalo hasilnya positif atau negatif memang real, bakal diikuti,” sebut Fathul yang kini berada di RS IA Moeis Samarinda bersama para aktivis.

Pihak Dinkes Samarinda melalui dr. Ossa, Kepala P2P Dinkes Samarinda, memberi jawaban terkait hal tersebut. Ossa mengatakan bahwa sudah menjadi prosedur untuk tidak mengeluarkan hasil tertulis test Swab tersebut.

“Tidak ada. Kalau pun positif ga bakal ada hasil tertulis,” sebut Ossa Jumat malam.

Ossa pun menyangkal jika disebut pihaknya melakukan jemput paksa. Menurutnya, ada hal lain hingga petugas memutuskan penjemputan tersebut.

“Bukan, pandemi ini kan bukan masalah kesehatan saja, ada aspek sosial yang perlu dipertimbangkan,” pungkas dr Ossa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed