Insitekaltim, Balikpapan – Bagi Ramadhan, catur awalnya bukanlah sesuatu yang direncanakan untuk menjadi jalan hidup. Dipanggil Adhan, ia justru mengenal permainan tersebut secara sederhana, dari aktivitas menemani sang ibu berjualan di pasar.
Saat itu, ibunya belum memiliki lapak tetap. Adhan pun kerap menghabiskan waktu dengan menonton orang-orang bermain catur. Hingga kemudian sang ibu pindah ke lapak yang berada di sekitar para pemain catur. Dari sanalah Adhan mulai sering ikut bermain dan berlatih.
“Awalnya karena ibu jualan di pasar. Saya sering nonton orang main catur. Setelah ibu pindah ke lapak catur, saya mulai sering latihan dan dari situ mulai tekun,” ujar Adhan saat diwawancarai pada Minggu, 30 Agustus 2026 melalui sambungan telepon WhatsApp dari kediamannya.
Menariknya, catur bukan olahraga yang sejak awal menjadi pilihannya. Adhan mengaku sebenarnya lebih ingin menjadi atlet sepak bola. Namun, ia melihat catur memiliki persiapan yang lebih fleksibel dan biaya yang relatif lebih ringan.
“Kalau menurut saya, catur tinggal persiapkan otak. Kalau bola persiapannya lebih banyak dan lebih mahal. Kalau catur lebih fleksibel, otak yang disiapkan,” tuturnya.
Perjalanannya sebagai atlet catur juga tidak langsung diwarnai prestasi. Pada 2013, Adhan pertama kali mengikuti kejuaraan tingkat provinsi tanpa didampingi pelatih. Saat itu ia masih bermain sekadar untuk mencoba. Bahkan pada 2014, ia belum memiliki prestasi dan masih harus berangkat menggunakan biaya sendiri.
Namun, situasi mulai berubah setelah Adhan berhasil membuktikan kemampuannya. Prestasi pertamanya diraih pada 2015 melalui Juara I Kejuaraan Catur Provinsi Junior di Kabupaten Kutai Kartanegara. Setelah itu, ia ditarik ke sekolah khusus olahragawan untuk mendapatkan pembinaan yang lebih terstruktur.
Sejak saat itu, prestasinya terus bertambah. Adhan meraih medali di Pekan Olahraga Provinsi, menjuarai berbagai turnamen open tingkat Kaltim hingga nasional, serta meraih gelar Master Nasional (MN) pada Kejuaraan Nasional Catur di Jakarta pada 2023.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Salah satu kekalahan yang paling diingatnya terjadi pada kejuaraan open nasional di Mamuju sekitar tahun 2023. Adhan kalah di pertandingan final dan harus kehilangan peluang menjadi juara.
Kekalahan itu menjadi bahan evaluasi baginya. Ia memilih tidak terlalu lama larut dalam hasil pertandingan dan menjadikannya sebagai bahan untuk memperbaiki diri.
“Harus move on. Perbaiki apa yang harus diperbaiki,” katanya.
Pengalaman bertanding juga membuat Adhan semakin terbiasa menghadapi pemain-pemain papan atas. Baginya, nama besar lawan tidak seharusnya menjadi alasan untuk takut.
“Walaupun pemain SEA Games, ya sama-sama orang. Semua bisa terjadi. Kita fokus sama diri sendiri dan persiapkan apa yang harus dipersiapkan,” ujarnya.
Kini, Adhan masih membawa ambisi yang sama. Setelah mengoleksi tiga medali emas Porprov, lolos seleksi Pra-PON, serta meraih juara pada Porprov Kaltim 2026, ia menargetkan dapat melanjutkan perjuangan hingga PON.
Menurutnya, Kaltim memiliki banyak atlet catur potensial. Persoalannya bukan semata kemampuan, melainkan kesempatan untuk bertanding dan berkembang.
“Banyak yang jago-jago, tapi tidak punya kesempatan untuk ikut. Cuma terhalang kesempatan,” pungkasnya.

