Insitekaltim, Samarinda – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) masih perlu diwaspadai hingga akhir 2026. Berdasarkan data terakhir yang dirujuk Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim dari BPBD, sekitar 38 hektare lahan dilaporkan terbakar, meski seluruh kejadian dalam laporan tersebut disebut telah berhasil dipadamkan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbun Kaltim Arief Murdiyatno mengatakan, potensi karhutla masih terbuka selama kondisi kemarau berlangsung. Karena itu, pemantauan titik panas dan pemeriksaan langsung ke lapangan terus dilakukan bersama BPBD serta unsur terkait.
“Untuk hotspot juga setiap hari kita pantau bersama BPBD sebagai leading sector. Kemudian kita juga lakukan ground check,” kata Arief, Selasa, 20 Oktober 2026.
Penanganan karhutla melibatkan sejumlah unsur, mulai dari Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), satgas, brigade di kabupaten dan kota, hingga perusahaan perkebunan. Penanganan dilakukan secara bertahap, mulai dari pemeriksaan lokasi hingga koordinasi untuk pemadaman.
Laporan kebakaran mencakup lahan kehutanan, perkebunan, dan lahan milik masyarakat. Dari sejumlah kategori tersebut, kebakaran di lahan masyarakat disebut masih mendominasi.
Di kawasan perkebunan, perusahaan turut melakukan antisipasi agar api tidak merembet masuk ke area budidaya. Pemadaman dilakukan bersama BPBD dan kelompok peduli api, terutama ketika titik kebakaran berada di sekitar kawasan kebun.
“Kalau untuk di budidaya kami, kalau misalnya sampai kejadian itu kan otomatis akan merugikan diri kita sendiri. Makanya antisipasinya mereka sangat luar biasa,” ujarnya.
Tambahnya, proses pemadaman masih menghadapi kendala ketika lokasi kebakaran jauh dari sumber air. Akses kendaraan tangki yang tidak dapat menjangkau titik api juga menjadi tantangan bagi petugas.
Jika kondisi tersebut terjadi, koordinasi dengan BPBD diperlukan untuk menentukan dukungan penanganan yang sesuai dengan kondisi lapangan.
“Yang menjadi kendala kadang kalau jauh dari sumber air. Yang kedua, kendaraan seperti tangki itu tidak bisa masuk ke lokasi,” jelasnya.
Oleh karena itu, mitigasi tetap dipersiapkan hingga akhir tahun karena potensi kebakaran belum sepenuhnya hilang. Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah juga masih perlu dipantau, terutama untuk mengetahui luas sebarannya dan apakah curah hujan sudah cukup membantu menekan risiko kebakaran.
Selain pemantauan dan pemadaman, Disbun Kaltim mengimbau masyarakat menunda pembukaan lahan dengan cara membakar selama kondisi kemarau masih berisiko.
Arief mengingatkan, api yang awalnya kecil dapat berkembang menjadi kebakaran lebih besar apabila kondisi lingkungan tidak mendukung.
“Sekecil apa pun bahaya itu akan berpotensi menjadi besar karena ada pengaruh musim seperti ini. Kondisinya tidak memungkinkan, barangkali nanti bisa ditunda dulu untuk melakukan pembukaan lahan dengan membakar,” tegasnya.

