Insitekaltim, Samarinda – Mengurangi minuman manis sering menjadi langkah awal bagi orang yang ingin menurunkan berat badan. Namun, saat dihadapkan pada pilihan air putih atau minuman diet berlabel rendah kalori, sebagian orang masih bertanya-tanya, mana yang lebih efektif?
Penelitian selama dua tahun terhadap 493 orang dewasa dengan kelebihan berat badan atau obesitas menunjukkan bahwa mengganti minuman dengan air putih maupun minuman diet sama-sama dapat dilakukan dalam program penurunan berat badan. Namun, penelitian tersebut tidak menemukan bukti statistik yang cukup kuat bahwa salah satunya lebih unggul.
Dalam uji coba SWITCH, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mengonsumsi air putih, sedangkan kelompok lainnya mengonsumsi minuman diet yang menggunakan pemanis nonnutritif, seperti aspartam, asesulfam-K, atau sukralosa.
Setelah 104 minggu, berat badan peserta yang mengonsumsi minuman diet turun rata-rata 4,8 kilogram. Adapun peserta yang mengonsumsi air putih mengalami penurunan rata-rata 3,7 kilogram.
Selisih hasil tersebut tidak signifikan secara statistik. Karena itu, angka penurunan berat badan yang lebih besar pada kelompok minuman diet tidak bisa dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa minuman tersebut lebih ampuh.
Temuan ini memberi gambaran bahwa orang yang sedang mengurangi konsumsi gula tidak selalu harus langsung menghindari semua minuman berperisa. Minuman diet bisa menjadi alternatif bagi sebagian orang, terutama untuk membantu mengurangi asupan gula dari minuman sehari-hari.
Namun, pilihan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan pola makan secara keseluruhan.
Minuman rendah kalori tidak otomatis membuat berat badan turun. Jika asupan kalori dari makanan tetap berlebihan dan aktivitas fisik minim, mengganti minuman saja belum tentu menghasilkan perubahan yang diharapkan.
Sebaliknya, air putih tidak mengandung kalori sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tanpa menambah asupan energi dari minuman.
Penelitian itu juga mencatat perbaikan pada sejumlah indikator kesehatan di kedua kelompok, termasuk lingkar pinggang dan pinggul, komposisi tubuh, tekanan darah, serta kolesterol.
Profesor Joanne Harrold dari Universitas Liverpool menilai hasil penelitian tersebut tidak mendukung anggapan bahwa pemanis nonnutritif secara otomatis memicu peningkatan berat badan atau mengganggu pengaturan nafsu makan.
Meski demikian, temuan ini tidak menjawab seluruh pertanyaan tentang dampak konsumsi pemanis buatan dalam jangka panjang. Penelitian tersebut tidak dirancang untuk menilai semua kemungkinan pengaruhnya terhadap kesehatan hati, mikrobioma usus, maupun risiko penyakit kardiovaskular.
Sumber pendanaan penelitian juga perlu diperhatikan. Uji coba SWITCH menerima dukungan dari American Beverage Association. Informasi ini menjadi bagian dari transparansi penelitian, meski tidak serta-merta membuktikan bahwa hasilnya tidak dapat dipercaya.
Selain itu, peserta menjalani program pengelolaan berat badan terstruktur. Hasilnya karena itu tidak bisa langsung disamakan dengan kondisi masyarakat yang hanya mengganti minuman tanpa mengubah kebiasaan lainnya.
Bagi masyarakat yang sedang menjalani diet, keputusan memilih air putih atau minuman diet sebaiknya tidak hanya didasarkan pada klaim penurunan berat badan.
Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari. Sementara itu, minuman diet bisa dipertimbangkan sebagai alternatif untuk mengurangi konsumsi gula tambahan, dengan tetap memperhatikan komposisi produk dan jumlah konsumsinya.
Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga pola makan seimbang, rutin beraktivitas fisik, dan membangun kebiasaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Alih-alih mencari satu jenis minuman yang dianggap paling ampuh, keberhasilan menurunkan berat badan lebih bergantung pada keseluruhan pola hidup yang dijalankan secara konsisten.

