Insitekaltim, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) terus meluas di tengah kondisi kemarau dan kekeringan. Hingga 21 September 2026, luas lahan yang terbakar telah mencapai 6.333 hektare dengan 1.470 titik kebakaran.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat tren kebakaran pada September berpotensi lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Kondisi vegetasi yang mengering akibat kemarau membuat lahan semakin mudah terbakar dan memperbesar risiko meluasnya kebakaran.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, data tersebut masih terus diperbarui karena sejumlah laporan dari kabupaten/kota belum seluruhnya masuk.
“Potensi kejadian yang terjadi sampai dengan kemarin sudah mencapai 1.470 titik kebakaran dengan luasan 6.333 hektare. Data ini terus di-update,” kata Buyung, di Samarinda, Selasa 22 September 2026.
Menurutnya, pembaruan data dilakukan hingga pukul 20.00 WITA. Karena pada waktu tersebut masih terdapat petugas yang melakukan penanganan di sejumlah daerah, data kebakaran yang masuk masih memungkinkan bertambah.
Kenaikan luasan kebakaran paling terlihat sepanjang September. Buyung menyebut akumulasi kebakaran sejak Januari hingga Agustus telah mencapai 3.828 hektare. Namun, khusus Agustus saja, luasan yang terbakar mencapai sekitar 3.300 hektare.
Sementara hingga 21 September, tambahan lahan yang terbakar telah mencapai sekitar 2.500 hektare.
“Kalau kita lihat Januari sampai dengan Agustus saja sudah mencapai 3.828. Bulan Agustus saja ada 3.300. Sementara sampai tanggal 21 ini sudah 2.500 hektare yang terbakar,” ujarnya.
Data tersebut menunjukkan September berpotensi menjadi periode dengan tekanan karhutla yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya apabila kondisi kering terus bertahan.
Sebaran kebakaran juga tidak merata di seluruh wilayah Kaltim. Kabupaten Paser menjadi daerah dengan jumlah titik kebakaran terbanyak, yakni mencapai 371 titik.
Selain Paser, wilayah Kutai Kartanegara juga menjadi salah satu daerah yang terdampak cukup besar. Buyung menyebut luas wilayah Kukar turut memengaruhi besarnya dampak kebakaran yang tercatat di daerah tersebut.
Kondisi ini membuat peningkatan karhutla tidak hanya menjadi persoalan lokal di satu wilayah, tetapi berpotensi memengaruhi kualitas udara di daerah lain.
Dengan luasan kebakaran yang telah mencapai ribuan hektare, Kaltim mulai masuk dalam perhatian sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan karhutla tinggi di Indonesia.
Buyung menyebut posisi Kaltim masih berada di bawah sejumlah provinsi di Kalimantan yang selama ini memiliki persoalan karhutla cukup besar. Namun, perkembangan luasan kebakaran di Kaltim membuat kewaspadaan perlu ditingkatkan.
“Dengan luasan 6.333 ini saat ini Kaltim sudah mulai masuk ke dalam prioritas kebakaran yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Ia memperkirakan Kaltim dapat masuk dalam kelompok daerah dengan tingkat kerawanan tinggi secara nasional, meski posisi pastinya masih perlu melihat perbandingan data dengan sejumlah provinsi lain.
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko kebakaran. Kemarau yang berlangsung bersamaan dengan pengaruh El Nino menyebabkan kondisi lahan semakin kering.
Vegetasi yang kehilangan kelembapan menjadi lebih mudah terbakar. Ketika kebakaran terjadi, dampaknya tidak berhenti pada kerusakan lahan, tetapi juga menghasilkan asap yang memengaruhi kualitas udara.
“Kondisi kemarau dengan El Nino ini menyebabkan kekeringan. Vegetasi di bawah ini sangat kering sehingga sangat mudah terbakar,” kata Buyung.
Dampak kekeringan juga tidak hanya berkaitan dengan karhutla. BPBD melihat kondisi tersebut dapat memengaruhi ketersediaan pangan karena sektor pertanian turut bergantung pada ketersediaan air.
Persoalan kualitas udara di Kaltim juga tidak sepenuhnya berasal dari kebakaran yang terjadi di dalam wilayah provinsi. Asap dari kebakaran di wilayah lain di Kalimantan dapat terbawa hingga masuk ke Kaltim.
Mahakam Ulu menjadi salah satu daerah yang disebut mengalami kondisi tersebut. Meski jumlah kebakaran di wilayah tersebut relatif rendah, kualitas udaranya dapat memburuk akibat kiriman asap dari daerah sekitar.
“Mahakam Ulu itu tingkat kebakarannya rendah, tetapi tingkat pencemaran udaranya cukup tinggi. Bukan karena dari sendiri, tapi akibat efek dari Murung Raya yang dari Kalteng dan dari Kubar,” ujarnya.

