Insitekaltim, Samarinda – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan satu unit helikopter untuk melakukan waterbombing sebagai upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Samarinda, Kalimantan Timur (Katim).
Helikopter tersebut telah tiba di Bandara APT Pranoto dan dijadwalkan mulai beroperasi pada Rabu, 9 September 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, pihaknya telah menerima informasi langsung dari BNPB terkait kedatangan helikopter untuk mendukung penanganan Karhutla di wilayah Samarinda.
“Bahwa saat ini helikopter sudah sampai di APT Pranoto,” kata Suwarso.
Menurutnya, pelaksanaan waterbombing diharapkan dapat dimulai pada Rabu. Namun, teknis operasi masih akan dibahas dalam rapat bersama BNPB.
“Sementara yang saya lihat di Bandara APT Pranoto satu unit,” ujarnya.
Suwarso mengatakan BNPB juga telah meminta data titik-titik kebakaran di Samarinda sebagai bahan untuk menentukan penanganan. Data tersebut telah disampaikan BPBD dalam bentuk grafik dan infografis.
“Dari BNPB sudah minta data-data kebakaran di Samarinda. Sudah disampaikan secara grafik maupun infografis,” katanya.
Berdasarkan data terakhir BPBD Samarinda, tercatat sekitar 176 kejadian kebakaran lahan di wilayah tersebut. Dari seluruh kejadian itu, kebakaran di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara menjadi yang terbesar dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 20,5 hektare.
“Sekitar 176, data terakhir itu ya. 176 kejadian dan yang terbesar di sini. Dulu sempat terbesar itu di daerah Bantuas, kurang lebih 10 hektare. Tapi ini ternyata di sini Betapus ada 20,5 hektare,” jelas Suwarso.
Selain kawasan permukiman dan lahan semak, BPBD berharap waterbombing juga dapat diarahkan ke kawasan pertanian apabila secara teknis memungkinkan.
Menurut Suwarso, penanganan di lahan pertanian dapat membantu mempercepat pemulihan kondisi tanah dan mengembalikan fungsi sawah yang terdampak kekeringan maupun kebakaran.
“Kalau memungkinkan lahan pertanian bisa ikut dilakukan waterbombing, itu juga akan mempercepat proses pengembalian fungsi sawah, bisa hidup tanah-tanah kembali. Sehingga petani juga bisa ikut merasakan manfaat dari waterbombing,” ujarnya.
Di sisi lain, BPBD Samarinda juga telah berkomunikasi dengan BNPB terkait kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kondisi kering yang meningkatkan risiko kebakaran.
Namun, Suwarso mengatakan OMC belum dapat dilakukan karena belum terdapat potensi awan yang cukup untuk disemai menjadi hujan.
“Saya juga sudah komunikasi langsung dengan Kepala BNPB. Beliau menyampaikan bahwa hasil dari BMKG Pusat, belum ada potensi awan, pembentukan awan yang berpotensi menjadi hujan,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat waterbombing menjadi langkah awal yang dipilih BNPB untuk membantu penanganan kebakaran.
“Belum ada awan yang potensi besar untuk disemai menjadi hujan. Jadi langkah pertama yang dilakukan oleh BNPB adalah melalui waterbombing,” pungkasnya.

