Insitekaltim, Samarinda – Festival Literasi Kalimantan Timur (Kaltim) kembali digelar setelah sempat tidak terlaksana akibat keterbatasan anggaran dan efisiensi. Tahun ini, kegiatan tersebut digelar melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim bersama pegiat literasi, komunitas, dunia usaha, serta penerbit.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Kaltim Lisa Hasliana mengatakan, pelaksanaan Festival Literasi tahun ini berawal dari inisiatif Penerbit Mizan yang mengajukan kerja sama dengan Pemprov Kaltim untuk menggelar Pasar Buku Murah.
“Kesempatan ini kita manfaatkan juga sekaligus mengadakan Festival Literasi yang biasa dilakukan,” kata Lisa saat ditemui di Dispora Kaltim, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni meningkatkan literasi masyarakat Kaltim serta mendorong minat baca. Selain itu, keberadaan Pasar Buku Murah diharapkan dapat membantu meningkatkan ketersediaan judul buku bagi masyarakat.
Lisa menyebutkan sekitar 70 penerbit berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Keikutsertaan banyak penerbit ini diharapkan turut membantu mengejar rasio ketersediaan buku yang ditetapkan Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
“Rasio yang ditetapkan oleh Perpusnas adalah dua judul buku untuk satu orang penduduk. Kita masih kekurangan empat judul buku,” ucapnya.
Di tengah keterbatasan anggaran, DPK Kaltim memilih memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak. Pegiat literasi, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), hingga dunia usaha turut memberikan dukungan.
Dukungan tersebut tidak selalu berbentuk dana. Sejumlah pihak membantu menyediakan kebutuhan kegiatan, seperti snack box maupun narasumber. Bank Indonesia (BI), Bankaltimtara, Pertamina, dan sejumlah pihak lainnya turut mendukung pelaksanaan kegiatan.
Kolaborasi juga dilakukan dengan organisasi perangkat daerah (OPD). Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) membantu publikasi, sementara Dinas Pendidikan Provinsi Kaltim dan Kota Samarinda mendukung berbagai kegiatan literasi yang melibatkan peserta didik.
Festival Literasi berlangsung selama 20 hari, mulai 29 Agustus 2026, setiap hari pukul 09.00 hingga 20.00 Wita. Selain pasar buku murah, kegiatan juga diisi berbagai agenda seperti lomba bertutur, lomba menulis buku, talkshow, hingga kegiatan seni.
Sementara itu, Lisa menyebut hasil penjualan buku tidak menjadi pendapatan pemerintah. Penjualan sepenuhnya menjadi hak masing-masing penerbit yang berpartisipasi.
“Enggak ada kita target pembeli, karena jumlah judul buku tadi. Target dari pemerintah tercapai tanpa mengeluarkan uang yang besar,” pungkasnya.

